REFORMASI SEKOLAH MELALUI KEGIATAN “LESSON STUDY”

REFORMASI SEKOLAH MELALUI KEGIATAN “LESSON STUDY”
Studi kasus di SMP Gakuyo, Kota Fuji, Perfektur Shizuoka.
Oleh:
Ridwan Joharmawan

Pendahuluan

Departemen pendidikan nasional sedang berupaya keras untuk menjalankan amanat Undang-undang No 20 Tahun 2003 diantaranya terdapat pada Pasal 3, yang menyatakan tentang konsep pendidikan yang harus dijalankan adalah holistik untuk membangun karakter, karena “bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Salah satu langkah strategis yang sudah dihasilkan adalah tersusunnya Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, dimana memuat kebijakan yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan di atas.
Direktorat Menengah Umum untuk melaksanakan amanat tujuan pendidikan telah menyusun program strategis. Terdapat 20 program strategis dan 3 program tambahan. Satu diantaranya adalah program reformasi
sekolah. Program ini dikembangkan mengacu pada “Sekolah Efektif”, yaitu sekolah yang memiliki profil: mandiri, inovatif, dan memberikan iklim yang kondusif bagi warganya untuk mengembangkan sikap kritis, kreatif dan secara bersama-sama mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Untuk menuju sekolah efektif diperlukan proses reformasi di tiga level sebagai berikut:
a. Pada level kelas (regulator) mencakup:
 mewujudkan proses pembelajaran efektif
 menerapkan sistem evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan
b. Pada Level Mediator (Profesi) mencakup:
 Melaksanakan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah yang kuat
 Melaksanakan pengembangan dan pembinaan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
c. Pada Level sekolah (manajemen) mencakup:
 Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah (clarity of purpose)
 Melaksanakan kerangka akuntabilitas yang kuat
 Melaksanakan transparansi manajemen
 Menumbuhkan komitmen untuk mandiri
 Mengutamakan kepuasan siswa dan orang tua
 Menumbuhkan sikap reponsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
 Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib
 Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah
 Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi
 Menumbuhkan kemauan untuk berubah
 Mengembangkan komunikasi yang baik
 Mewujudkan tim kerja yang kompak, cerdas dan dinamis
 Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif
 Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat.

Dari uraian di atas terlihat bahwa reformasi sekolah seharusnya dilaksanakan secara serentak pada ke tiga level yang berpengaruh terhadap pencapaian sekolah efektif. Namun demikian pada makalah ini akan dikupas terfokus pada level kelas dan pengembangan profesi guru.
Model pendidikan holistik berbasis karakter yang diamanatkan oleh UU No 20 Tahun 2003, sesungguhnya sudah menjadi trend pembaruan sistem pendidikan yang dianggap cocok untuk abad 21. Reformasi pendidikan di Jepang misalnya, ada tiga kalimat kunci yang sering disebut, yaitu kokoro-no-kyoiku (pendidikan untuk hati, jiwa, atau kedirian manusia), sogo-gakushyu (pembelajaran holistik), dan tokushyoku, koseika (keunikan masing-masing sekolah dan masing-masing individu). Ministry of education of British Columbia, Canada, pada tahun 2000 juga mencanangkan tujuan pendidikan untuk mengembangkan aspek estetika dan kesenian, emosi dan sosial, intelektual, fisik dan kesehatan, serta aspek tanggung jawab sosial.
Akhir tahun 1990-an sampai sekarang perekonomian Jepang tidak sebaik pada tahun 1960-an hingga 1990-an. Dibelakang sukses ekonomi diyakini disebabkan oleh keberhasilan reformasi pendidikan, karena sukses ekonomi pasti didukung oleh tersedianya sumber daya manusia terdidik dan tenaga kerja yang kompeten. Sebaliknya sejak akhir tahun 1990-an sampai sekarang ekonomi Jepang yang mengalami kesulitan juga diyakini oleh karena kurang berhasilnya reformasi pendidikan. Walaupun selama 10 tahun terakhir reformasi pendidikan sedang berlangsung namun diakui oleh beberapa akademisi pendidikan masih banyak masalah yang belum tertangani dengan baik. Walaupun demikian pendidikan di Jepang dianggap masih baik oleh negara-negara lain. Beberapa indikator yang menunjukkan pendidikan Jepang dianggap baik adalah:
 Rasio siswa SMP yang masuk SMA sebesar 97%, merupakan angka tertinggi di dunia
 Rasio siswa SMA yang meneruskan ke perguruan tinggi sebesar 49% , merupakan angka tertinggi di dunia
 Kasus siswa tidak masuk sekolah sangat rendah
 Kasus kriminal oleh pelajar juga rendah.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Jepang saat ini dilakukan 3 hal:
1. Penyebaran budaya kolaboratif dan budaya kepemimpinan
2. Pelaksanaan Lesson Study dengan basis sekolah membuka diri dan sebagai gambaran budaya kolaboratif dan distribusi kepemimpinan dalam peningkatan pembelajaran
3. Pembentukan sekolah sebagai komunitas belajar

Studi Kasus Reformasi Sekolah di SMP Gakuyo, Kota Fuji
SMP Gakuyo saat ini merupakan sekolah pada peringkat atas secara akademik. Empat tahun lalu kondisinya jauh berbeda, banyak siswa yang mau lari dari kelas, tidur dan seringkali protes terhadap guru, saat itu rangking sekolah ada kelompok bawah dari 14 SMP di kota Fuji. Untuk merubah keadaan tersebut maka dilakukan 3 tahapan sebagai berikut
1. Merubah perhatian Guru kepada siswa
2. Melaksanakan pembelajaran kolaboratif
3. Melakukan Lesson Studi
Banyaknya kasus siswa yang ingin lari dari kelas (banyak siswa absen, membolos), siswa yang tertidur di kelas, dan protes terhadap guru yang pada akhirnya menurunkan kemampuan akademis sekolah sehingga pada urutan terbawah pada awalnya oleh guru dianggap penyebabnya dari diri siswa. Komentar bahwa siswa di SMP ini bodoh, malas dan tidak sopan merupakan pandangan umum para guru untuk menjawab permasalahan tentang buruknya kondisi siswa. Padahal sesungguhnya setelah diamati bersama oleh para guru, penyebab dari kondisi siswa tersebut adalah karena pembelajaran di kelas tidak menarik, sehingga siswa ingin lari dari kelas, tertidur dan nilai akademiknya rendah. Pada saat itu pembelajaran dilakukan dengan ceramah sehingga interaksi monolog guru-murid dan berpola teacher-centered yang mengakibatkan siswa kurang dihargai pendapatnya. Kenyataan tersebut mengakibatkan pembelajaran menjadi membosankan, siswa yang tidak dihargai pendapatnya menjadi patah semangat untuk mengikuti pembelajaran. Siswa yang mengalami kesulitan belajar semakin ketinggalan karena Guru tidak mampu menggali lebih jauh penyebab siswa mengalami kesulitan di dalam pembalajaran.
Oleh karena itu cara pandang Guru terhadap buruknya kondisi siswa tersebut harus dirubah. Bahwa bukan karena siswa semata penyebab dari kondisi tersebut tetapi sesungguhnya bagian terbesar dari penyebab buruknya kondisi siswa karena Guru itu sendiri. Oleh karena itu pendapat awal tentang kondisi buruknya siswa sekarang menjadi boomerang bagi Guru. Guru hendaknya mampu membuat pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat siswa misalnya dengan berdiskusi, banyak bertanya, bereksplorasi dan membuat suasana kelas yang menyenangkan sehingga kemampuan verbal dan motoriknya berkembang, termasuk juga kemampuan berpikir kritisnya.
Di SMP Gakuyo pembelajaran dilaksanakan dengan sebanyak mungkin menggunakan kegiatan belajar mengajar ” hands-on activity” . Kegiatan belajar mengajar menggunakan media pembelajaran yang langsung digunakan oleh siswa. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan konstruktivistik, dimana siswa di fasilitasi untuk memperoleh pengetahuannya secara mandiri baik individu maupun kelompok. Sebelum kegiatan belajar mengajar guru harus memperhatikan cara:
 Memancing respon siswa terhadap materi yang akan disampaikan
 membangkitkan rasa ingin tahu dan memecahkan dengan kegiatan baik individu kemudian kelompok
 Penyedian media/alat bantu belajar dalam kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan belajar mengajar dengan kegiatan “hands-on” mampu menggairahkan siswa untuk menyenangi susana belajar disekolah sehingga problem kelas membosankan dapat di atasi. Media pembelajaran senantiasa dikembangkan terus menerus melalui diskusi-dsikusi dalam lesson study.
Di dalam kelas heterogen biasanya terdapat tiga kelompok siswa kelompok pertama adalah siswa yang sudah paham terhadap materi pembelajaran, kelompok yang kedua adalah yang setengah paham, dan yang ketiga adalah kelompok yang tidak paham. Untuk meningkatkan kelompok siswa yang yang setengah paham dan yang tidak paham menjadi paham guru seorang diri akan kesulitan melakukan perubahan tersebut. Pembelajaran kolaboratif dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Pembelajaran kolaboratif di lakukan untuk mendorong siswa belajar dengan orang lain (teman, dan gurunya), belajar dengan obyek pembelajaran, dan belajar dengan dirinya. Di dalam pembelajaran kolaboratif siswa tidak hanya paham tetapi juga siswa mampu menjelaskan, dan diharapkan siswa mampu mengajarkan kepada temannya. Dengan demikian dalam pembelajaran kolaboratif ini secara bersama-sama kendala kelompok siswa yang setengah paham dan tidak paham diharapkan mampu diatasi bersama-sama di dalam kelompok. Namun demikian pembelajaran kolaboratif hendaknya juga memberi kesempatan kepada siswa untuk sebelumnya berpikir mandiri, Oleh karena itu proses pembelajaran hendaknya berlangsung dengan tahapan: belajar mandiri dilanjutkan kolaboratif, kemudian penyampaian pendapat antar kelompok.
Untuk membuat siswa yang cerdas menjadi malas melakukan pembelajaran kolaboratif maka topik pembelajaran kolaboratif dipilih topik yang sulit. Dengan memberikan soal yang sulit siswa akan tertantang untuk menyelesaikan masalah dengan bekerja sama dan terjadilah diskusi yang menarik antar siswa dalam kelompok maupun antar kelompok di dalam kelas sehingga kelas merupakan komunitas belajar yang baik. Pemberian soal yang sulit, tidak hanya menggairahkan siswa yang cerdas tetapi juga akan membuat siswa secara bersama-sama melompat di dalam memahami materi pembelajaran dari level yang normal dengan dukungan teman lain. Soal yang sulit dicontohkan adalah soal yang di atas level yang seharusnya (misalnya siswa SMP diberi masalah untuk kelas/tingkat diatasnya). Soal atau tema yang levelnya lebih tinggi akan menumbuhkan daya imajinasi siswa yang tinggi dan juga semangat belajar bersama-sama yang baik.
Pembelajaran kolaboratif dilaksanakan setelah siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri, setelah itu kemudian diminta untuk membuat kelompok kecil (maksimal 4 siswa, laki-laki dicampur perempuan dengan tingkat kemampuan yang heterogen). Anggota kelompok 4 siswa adalah yang paling efektif lebih dari itu anggota lain akan cenderung pasif. Sedangkan gabungan siswa perempuan dan laki-laki memberi pengaruh kuat terhadap aktivitas pembelajaran kolaboratif. Sedangkan tingkat kemampuan heterogen akan mendorong siswa melakukan proses belajar bersama yang efektif, siswa yang paham akan melakukan proses menjelaskan dan mengajarkan kepada anggota kelompok lainnya.
Ada 2 jenis kegiatan kolaboratif
1. Kegiatan individu yang dilakukan bersama: di mana seorang siswa yang belum paham jika berfikir sendiri, dan akan paham jika mendapat bantuan teman-temannya.
2. Kegiatan berdiskusi dari pendapat individu:- Para siswa saling menyatakan dan mendengarkan pendapat temannya, dan ini menjadi kesempatan yang baik untuk saling merasakan sisi positif dari teman lain dan juga untuk mengetahui pendapatnya yang belum sempurna. – Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan dengan kata-kata yang muncul dari dirinya sendiri, sehingga akan memperjelas pendapatnya.
Untuk mendukung pembelajaran kolaboratif yang berarti, maka diperlukan aturan di dalam berkomunikasi di kelompok. Aturan tersebut antara lain:
 Mendengarkan dengan baik pendapat orang lain, apabila belum memahami pendapat orang lain harus bertanya dengan kalimat “ belum tahu/paham”
 Tidak memberitahu/menjelaskan kepada orang lain sebelum diminta.
 Harus memberitahu/menjelaskan sampai selesai apabila diminta.
 Boleh meniru kata-kata atau tindakan teman, Lebih baik paham walaupun meniru orang lain daripada dibiarkan saja dalam keadaan belum paham
Kadangkala kegiatan kolaboratif tidak berhasil, terlihat dari tidak adanya aktivitas diskusi dalam suatu kelompok sehingga tidak ada pemecahan yang benar dari masalah yang di munculkan oleh guru. Untuk itu guru harus segera membimbing siswa di dalam kelompok ibarat guru menyediakan tangga untuk di gunakan siswa naik menemukan jawaban dari masalah yang didiskusikan. Tangga tersebut dapat berupa kata-kata kunci (clue) menyelesaikan masalah, merubah susunan kelompok, dan memilih siswa yang sudah paham untuk menyampaikan pendapatnya.
Saat ini di SMP Gakuyo seluruh pembalajaran mata pelajaran dilakukan dengan pembelajaran kolaboratif. Pada awalnya guru-guru di sekolah tidak mau melaksanakan pembelajaran kolaboratif disebabkan oleh karena:- khawatir menurunkan nilai ujian, – waktunya lebih lama sehingga materi di dalam buku teks tidak selesai. Walupun kemudian mereka sadar alasan tersebut hanyalah self barier. Perubahan sikap guru tersebut dimulai setelah dilakukan Lesson Study secara terus menerus dimana yang pertama kali sebagai guru pengajar adalah Kepala Sekolahnya sendiri dan semua guru mengamati proses belajar mengajar. Setengah tahun kemudian baru muncul kesadaran untuk merubah metode mengajar dari teacher centered ke arah student centered (hands on activity dan pembelajaran kolaboratif).
Sekarang ini kegiatan lesson study dilakukan rutin 2 kali sebulan , 1 kali untuk guru satu tingkat kelas yang sama, dan satu kali diikuti seluruh guru satu sekolah. Satu tahun sekali seorang guru harus melakukan pembelajaran di dalam kegiatan lesson study. Kegiatan Lesson study dilaksanakan oleh guru dalam satu tingkat kelas yang sama dimana diharapkan terjadi kajian bersama dari beberapa orang guru yang mengajar siswa-siswa yang sama terhadap cara belajarnya. Dengan demikian akan terjadi banyak perhatian untuk memecahkan masalah siswa yang biasanya mengalami kesulitan belajar pada berbagai mata pelajaran. Sedangkan Lesson Study yang dilakukan observasi oleh seluruh guru di sekolah diharapkan guru dapat belajar lebih banyak masalah dalam berbagai tingkat kelas sehingga lebih bisa memahami filosofi hope-step-jump, dalam pembelajaran kolaboratif. Pada saat kegiatan Lesson Study guru pengajar akan mendapat banyak masukan berharga terutama tentang cara belajar siswa dari setiap guru pengamat, dan advisor dari Perguruan Tinggi(kadang-kadang).
Sebelum seorang guru mengajar pada saat kegiatan lesson study, seminggu sebelumnya guru melakukan analisis tentang kondisi siswa dan analisis materi pelajaran. Guru dibolehkan bertanya kepada guru bidang studi yang lain tentang persiapan yang sudah dilakukan. Hasil analisi dan konsultasi dengan guru lain kemudian di tulis dalam rencana pembelajaran yang sederhana yang di SMP Gakuyo disebut resep pembelajaran. Resep tersebut sangat ringkas dan padat sehingga di dalam praktek menjadi sangat luwes sehingga tidak miengikat guru untuk berimprovisasi dalam pembelajaran sesungguhnya. Point penting yang dilakukan Guru dalam pembelajaran di SMP Gakuyo pada pembuatan jurnal mengajar setelah selesai satu sesi pembelajaran. Jurnal mengajar ini menjadi tugas guru sekaligus sebagai refleksi untuk peningkatan pembelajaran berikutnya.
Pada saat pelaksanaan Lesson study, seorang guru mengajar siswanya dan semua guru dan advisor dari luar akan mengamati bagaimana siswa belajar. Observer akan mengamati cara belajar siswa atau kelompok siswa yang terdekat dengan dirinya. Kadang-kadang observer bertanya kepada siswa untuk memastikan pengamatannya. Segala hal tentang cara belajar siswa dari awal sampai akhir dicatat oleh observer. Pengamatan juga dilakukan dengan merekam kegiatan pembelajaran dengan handycam lebih dari satu.
Setelah pembelajaran selesai dilakukan diskusi. Guru pengajar duduk di meja depan menghadapi audiense bersama dengan Kepala Sekolah dan kadang-kadang dengan advisor dari perguruan tinggi. Di papan tulis sudah digambarkan denah tempat duduk siswa. Selanjutnya komentar disampaikan oleh semua guru yang menjadi observer. Pada saat diskusi pembicaraan terfokus bagaimana siswa belajar dan bagaimana menangani masalah belajar siswa serta saran bagaimana mengefektifkan pembelajaran. Tidak ada komentar yang mengkritik guru. Diskusi berlangsung dengan lancar dan kadang-kadang diselingi dengan tawa, suana serius tapi santai dan jauh dari ketegangan pun pada guru pengajar. Moderator mengatur jalannya diskusi dan dibantu notulis yang mencatat jalannya diskusi. Diskusi diikuti oleh semua guru peserta lesson study sampai berakhir kegiatan tersebut. Dimana kata akhir biasanya berupa pembahasan secara menyeluruh tentang topik-topik yang didiskusikan sekaligus memberi saran secara menyeluruh pada proses belajar mengajar yang baru saja dilakukan oleh kepala sekolah atau advisor dari perguruan tinggi.
Penutup
Dengan kegiatan Lesson Study berarti guru sudah mulai membuka diri untuk memulai perbaikan secara mendasar dalam peningkatan kualitas pembelajaran, yang intinya adalah membelajarkan siswa. Dengan membuka diri menerima saran dari teman guru dan pakar dari luar sekolah secara langsung dan mengikuti kegiatan lesson study dari teman lain maka diharapkan terjadi keberanian untuk melakukan perubahan dalam mengelola proses belajar mengajar sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kualitas guru. Kegiatan Lesson Study yang merupakan ajang diskusi tentang bagaimana meningkatkan cara belajar siswa diantara para guru dan bukan ajang untuk mengadili cara mengajar guru, akan mendorong tumbuhnya rasa percaya diri pada guru dan menguatnya rasa kesejawatan diantara guru, dengan kesadaran mencari metode yang terbaik bagaimana membelajarkan siswa. Sehingga pada akhirnya diharapkan semua guru dapat melayani semua siswa dalam pembalajaran, dan siswapun dapat menyesuaikan dengan model pembelajaran semua gurunya dan akhirnya sekolah bisa menerima siapapun kepala sekolahnya, karena sekolah sudah menjadi komunitas belajar yang mempunyai tujuan sama yaitu meningkatkan kualitas sekolah secara holistik. Kalau kondisi ini sudah tercapai maka sesungguhnya reformasi sekolah sudah mulai berjalan dan menampakkan arah yang benar.

Daftar Rujukan
Catatan Kuliah dari Prof. Yumiko Ono
Catatan Kuliah dari Prof. Manabu Sato
Catatan Kuliah dari Prof. Masaaki Sato
Catatan Kuliah dari Prof . Hidenori Fujita
Catatan Kuliah dari Mr. Junji Ishii
Catatan Kuliah dari Mr Kouichii Ito
Catatan Kuliah dari Prof Takeda.
Catatan Kuliah dari Prof Inagaki
Buku Program Strategis Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas .

Satu Tanggapan to “REFORMASI SEKOLAH MELALUI KEGIATAN “LESSON STUDY””

  1. suprapta Says:

    perlu diterapkan di indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: