Lesson Study

PENGALAMAN LESSON STUDY DI MALANG

Ridwan Joharmawan
Dosen Jurusan Kimia FMIPA UM dan Kepala Sekolah SMA Lab. UM

PENDAHULUAN
Peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah merupakan titik sentral di dalam peningkatan mutu sekolah. Guru merupakan faktor utama di dalam peningkatan kualitas pembelajaran, disamping faktor lain diantaranya; siswa, kurikulum, sarana-prasarana pembelajaran dan juga manajemen sekolah secara menyeluruh.
Sejak tahun 2000 SMA Laboratorium UM bekerjasama dengan FMIPA UM dan JICA dalam proyek IMSTEP, melakukan program peningkatan kualitas pembelajaran MIPA . Dalam program yang dinamakan Piloting tersebut guru-guru MIPA mendapatkan pelatihan dan juga pendampingan di sekolah secara terus menerus oleh dosen-dosen pendamping dari FMIPA tentang berbagai metode pembelajaran yang berbasis filosofi pembelajaran konstruktivisme.
Metode pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan konstruktivisme mempunyai ciri, guru memfasilitasi siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri dengan berbagai metode pembelajaran baik individu dan atau kelompok. Untuk melakukan pendekatan tersebut maka disusunlah berbagai metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa, hand’s-on activity, daylife activity, dan kolaborative.
Pelatihan dikampus FMIPA UM dilaksanakan untuk guru-guru MIPA sebagai upaya peningkatan pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan dalam mempersiapkan pembelajaran ; pengembangan silabi, pengembangan LKS, pengembangan kegiatan lab. menyusun asesmen, dan melatih ketrampilan pembelajaran di kelas.
Pendampingan dilakukan oleh tim dosen dari FMIPA UM mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran, pelaksanaan di kelas dan saat refleksi. Kegiatan pendampingan guru secara kontinyu di sekolah dirasa sangat membantu guru dalam meningkatkan rasa percaya diri, membantu penyelesaian masalah yang dihadapi guru serta memberi dorongan untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
Kegiatan Piloting membawa dampak posistif bagi peningkatan kualitas pembelajaran terlihat dengan semakin tingginya motivasi siswa di dalam mengikuti pembelajaran MIPA, disamping meningkatnya nilai mata pelajaran MIPA secara signifikan di kelas yang digunakan sebagai kelas Piloting. Namun demikian karena sekolah bukan hanya mata pelajaran MIPA maka peningkatan kualitas pembelajaran harus pula terjadi pada mata pelajaran lain. Dengan kata lain peningkatan kualitas guru non MIPA harus pula ditingkatkan mutunya.
Untuk meningkatkan kualitas Guru mata pelajaran non MIPA, maka ditempuh model pelaksanaan pengimbasan hasil kegiatan Piloting dengan cara Lesson Study. Cara tersebut dipilih karena guru dalam satu kelompok dapat saling belajar tentang metode pembelajaran dalam tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan di kelas, dan juga mendiskusikan metode tersebut setelah melihat dan mengamati bersama saat salah seorang guru mempraktekkan rancangan pembelajaran yang telah dirancang bersama di dalam kelas sesungguhnya, dan juga para guru dapat memahami bagaimana siswa belajar.

LESSON STUDY
Lesson study yang di dalam bahasa Jepang disebut jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang di lakukan oleh guru / sekelompok guru yang bekerjasama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama, guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainnya) merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian diobservasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan pembelajaran yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran di mana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan, kapan siswa mendapatkan pengetahuanya dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas dll. Diskusi pada saat refleksi yang mengkritik penampilan guru sejauh mungkin dihindari, dikarenakan hal tersebut tidak mempunyai manfaat bagi kesinambungan kegiatan lesson study.
Untuk dapat memulai kegiatan lesson study maka diperlukan perubahan dari dalam diri guru sehingga memiliki sikap sebagai berikut:
1. Semangat introspeksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini di dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pertanyaan seperti: Apakah saya sudah melakukan tugas mendidik dengan baik? Apakah saya sudah melakukan tugas seoptimal mungkin? Adalah merupakan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara jujur. Jawaban tersebut tentu akan mendorong pada proses pencarian cara untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan atas jawaban tersebut.
2. Keberanian membuka diri untuk dapat menerima saran dari orang lain untuk peningkatan kualitas diri.
3. Keberanian untuk mengakui kesalahan diri sendiri.
4. Keberanian mengakui dan memakai ide orang lain yang baik
5. Keberanian memberikan masukan yang jujur dan penuh penghormatan
Kelima sikap tersebut menjadi persyaratan yang harus dipahami dan mulai dipertajam sebelum kita melakukan kegiatan lesson study. Selain sikap dasar yang harus disiapkan oleh guru tersebut, maka juga sangat penting peranan dari berbagai komponen yang terkait dalam bidang pendidikan: pengelola sekolah, MGMP, kantor dinas pendidikan, universitas, dan para pemerhati pendidikan pada komitmen nyata dalam mendukung kegiatan lesson study.

Tahapan Pelaksanaan Lesson Study
Pada dasarnya lesson study dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan antara lain: 1) membentuk group lesson study misalnya guru dalam satu rumpun di sekolah, MGMP di kota /kabupaten atau guru seorang diri (tidak harus membuat kelompok) 2) menentukan fokus kajian dari lesson study, 3) merencanakan research lesson 4) mengajar dan guru/anggota group lain mengamati pembelajaran 5) mendiskusikan dan menganalisis hasil observasi dan 6) refleksi dan penyempurnaan untuk kegiatan berikutnya. Kegiatan lesson study secara sederhana dapat disingkat menjadi kegiatan Plan, Do-See dan Reflection.

Membentuk group lesson study
Paling tidak ada empat kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan group. Kegiatan tersebut antara lain adalah: 1) merekrut anggota, yang bisa berasal dari guru satu mata pelajaran atau lain, satu tingkat kelas, pengawas dari diknas, pemerhati pendidikan, atau dosen, 2) menyusun komitmen waktu, untuk pertemuan rutin merancang, melaksanakan, mengamati dan merefleksi lesson study, 3) menyusun jadwal pertemuan, 4) menyetujui aturan di dalam group.

Menentukan fokus Lesson study
Tahapan yang dilakukan untuk menentukan fokus lesson study antara lain adalah: 1) menyepakati tema penelitian,2) menentukan mata pelajaran (kalau anggota group guru lintas mata pelajaran), 3) menentukan satuan (unit) pelajaran.

Merencanakan Research lesson
Di dalam merencanakan research lesson, tentu kita senantiasa berpedoman pada fokus yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan mendiskripsikan tema penelitian kemudian mengintegrasikan dalam lesson plan tentu akan diperoleh kegiatan research lesson yang diharapkan. Untuk memandu penyusunan perencanaan research lesson , pertanyaan berikut ini bisa menjadi acuan:
1) apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?
2) apa yang kita harapkan dikuasai siswa pada akhir pelajaran?
3) apa saja rangkaian pertanyaan dan atau pengalaman belajar siswa yang akan mendorong siswa memperoleh pengetahuan yeng lebih lanjut?
4) kegiatan apa yang mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?
5) Apa bukti tentang hasil belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang harus dikumpulkan untuk data diskusi pada saat refleksi dan bagaimana instrumen pengumpulnya?
Pembuatan instrumen pengumpul data yang digunakan pada saaat reseach lesson menjadi sangat penting. Keberadaan instrumen pengumpul data yang berupa format isian tentang: denah tempat duduk siswa, anggota kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting yang dilakukan siswa misalnya partisipasi siswa dalam diskusi, sangat mendukung ketersediaan data yang akan dijadikan dasar di dalam kegiatan diskusi setelah pembelajaran selesai diamati.
Pengumpulan data utamanya difokuskan pada bagaimana siswa belajar, walaupun catatan penting tentang ucapan guru, alokasi waktu setiap tahapan pembelajaran juga perlu di lakukan.

PERANCANGAN KEGIATAN LESSON STUDY
Untuk merancang kegiatan Lesson Study di sekolah, maka dilakukan beberapa hal:
1. Menyusun Team Pengembang Pembelajaran:
Team ini beranggotakan, Guru-guru yang sudah mendapatkan pelatihan IMSTEP-JICA, guru Koordinator Mata pelajaran yang memiliki kemampuan mengajar yang baik.Tugas utama Team ini adalah mengembangkan kualitas pembelajaran di sekolah. Rincian tugasnya adalah:
a. merancang kegiatan workshop untuk guru-guru dengan materi pendekatan pembelajaran konstruktivisme, Penelitian Tindakan Kelas, Kurikulum Berbasis Konstruktivistik, Penyusunan Instrumen Asesmen, Tehnik memotivasi siswa.
b. mempersiapkan tata aturan pelaksanaan lessonstudy baik bagi guru maupun bagi pengamat saat perencanaan, pengamatan maupun saat refleksi.
c. mempersiapakan format pengamatan.
d. membuat jadwal pelaksanaan kegiatan lesson study dan mengumumkannya; yang berisi tanggal pelaksanaan, guru yang akan tampil, dan guru pengamat.
e. membuat laporan pelaksanaan kegiatan lesson study.

2. Merancang anggaran kegiatan lesson study dalam RAPBS, sehingga kegiatan lesson study dapat dilaksanakan secara optimal dengan dukungan dana RAPBS.
Anggaran kegiatan Lesson Study berupa Anggaran untuk : HR team pengembang tiap bulan, Biaya Pelaksanaan Workshop ( HR nara sumber, Transport dan Konsumsi, serta ATK) pembelajaran rutin di setiap awal semester, dan Transport dan konsumsi untuk pelaksanaan lesson study. Kegiatan Lesson study mulai tahun 2005 sudah mendapat dukungan dana RAPBS.
3. Melakukan kontrol di dalam pelaksanaan dengan mengikuti langsung kegiatan lesson study, dan menyelenggarakan rapat dinas dengan membahas laporan tim pengembang tentang pelaksanaan lesson study yang sudah dilaksanakan.

PELAKSANAAN KEGIATAN LESSON STUDY
Kegiatan lesson study mulai dilakukan pada bulan Agustus 2005, dimana sebelumnya pada bulan Juli dilaksanakan workshop peningkatan kualitas pembelajaran yang diikuti oleh semua guru dan karyawan dengan topik: Lesson study, dan Kompetensi guru.

Di dalam pelaksanaan kegiatan lesson study jumlah guru pengamat 5 – 10 orang guru, guru pengamat terdiri dari guru yang mengampu mata pelajaran sama maupun berbeda dengan mata pelajaran yang diajarkan saat lesson study.
PEMBAHASAN KEGIATAN LESSON STUDY
Pada awal pelaksanaan Lesson Study, tim pengembang merasa kesulitan untuk mendapatkan guru non piloting yang diminta untuk menjadi guru yang tampil pada kegiatan lesson study. Pada umumnya guru calon merasa kurang siap di dalam perancangan kegiatan pembelajaran yang berbasis siswa aktif, student centered, hand’s on activity, dan menyenangkan siswa. Alasan yang lain adalah guru merasa belum siap untuk dilihat oleh temannya pada saat mengajar, ini merupakan problem kepercayaan diri. Namun demikian setelah melalui berbagai tahapan workshop dan pengalaman mengobservasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru piloting maka lambat laun keberanian untuk tampil di dalam kegiatan Lesson study mulai tumbuh. Sehingga team pengembang tidak mendapat kesulitan di dalam menentukan guru yang tampil dalam Lesson Study.
Pada awal kegiatan lesson study banyak Guru pengamat melihat dan mengkritik tentang cara mengajar guru misalnya tentang: cara melakukan apersepsi, alokasi waktu yang tidak sesuai dengan di RP, posisi guru di depan kelas, cara guru membuat catatan di papan tulis, suara guru yang monoton, guru tidak secara tegas menyimpulkan materi pembelajaran, guru tidak melakukan penilaian pada saat proses pembelajaran dll. Namun demikian setelah diadakan rapat dinas terkait dengan lesson study dan adanya workshop membahas lesson study, maka pengamatan guru saat lesson study menjadi lebih terfokus pada proses belajar siswa di kelas. Hal ini terlihat pada saat refleksi kegiatan lesson study. Dimana guru pengamat yang mengajar pada kelas yang sama memberi masukan kepada guru pengajar dan wali kelas tentang siswa-siswa yang mengalami masalah pada saat pembelajaran, baik masalah kecakapan, kesulitan konsentrasi, atau sering memicu keramaian kelas. Selain itu pada saat refleksi pengamat melihat efektifitas pendekatan pembelajaran terhadap aktivitas siswa dalam belajar baik belajar mandiri, belajar dengan objek maupun belajar dengan teman dan atau gurunya.
Pada saat kegiatan lesson study secara umum guru sudah mencoba merancang dan melakukan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, terlihat dengan metode pembelajaran yang dipilih: kooperatif learning: TGT, STAD, jigsaw ; pembelajaran di laboratorium, CTL dll. Namun demikian dengan pengamatan oleh guru pengamat maka pada saat refleksi banyak masukan-masukan yang positif untuk menyempurnakan metode pembelajaran yang dilaksanakan.
Dengan melaksanakan kegiatan lesson study yang diikuti oleh hampir semua guru, maka terjadilah proses disseminasi metode pembelajaran yang berkualitas kepada guru. Keberhasilan proses disseminasi secara langsung dapat dilihat dari perubahan metode pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di sekolah. Secara umum guru mulai melaksanakan PBM yang lebih berkualitas dengan ciri; melaksanakan student centered, Hand’s on Activity, kolaboratif, laboratorium activity dan berbagai metode berbasis konstruktivisme.
Pembelajaran berkualitas di sekolah menjadi sebuah kebutuhan baik oleh guru maupun siswa. Tuntutan siswa untuk medapatkan pembelajaran yang berkualitas menjadi daya dorong guru untuk senantiasa melaksanakan PBM yang berkualitas.

Kendala Pelaksanaan Lesson Study
Pelaksanaan kegiatan Lesson Study telah berlangsung selama satu tahun. Dari hasil pelaksanaan tersebut ada beberapa kendala yang dihadapi antara lain:
1. Beberapa kelas merupakan kelas besar sehingga ruang/space untuk pengamat menjadi sangat terbatas, disamping itu menyulitkan guru dalam pembelajaran dengan kelompok, sehingga PBM kurang efektif.
2. Beberapa guru merasa belum siap untuk mengajar disemua tingkatan kelas.
3. Ketersediaan rekaman gambar saat guru mengajar yang akan sangat membantu guru pada saat refleksi ,belum cukup tersedia akibat sarana perekaman /handycam dan SDM, masih belum mencukupi.
4. Perlunya peningkatan pemahaman manfaat kegiatan lesson study kepada semua komponen sekolah baik guru, karyawan maupun pengelola sekolah, sehingga semua dapat saling bersinergi untuk memperlancar kegiatan lesson study.

PENUTUP
Dengan adanya kegiatan lesson study suasana belajar menjadi lebih bergairah dan menyenangkan, baik dari siswa, guru, maupun pengelola sekolah, inilah dasar yang diharapkan untuk mendorong terciptanya sekolah sebagai komunitas belajar ( learning community). Apabila suasana tersebut dapat ditingkatkan terus menerus di semua komponen sekolah maka cita-cita tercapainya sekolah yang berkualitas akan menjadi kenyataan.

Daftar Pustaka
Joharmawan, Ridwan. 2005, Reformasi Sekolah Melalui kegiatan Lesson Study, makalah disampaikan dalam seminar dan workshop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
Karim, Muchtar A. 2005, Lesson Study: Cara Implementasinya, makalah disampaikan dalam seminar dan workshop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
Lewis, Catherine C. 2002. Lesson study: A Handbook of teacher-Led Instructional Change. Philadelphia. PA: Research for Better schools,Inc.
Rahayu, Sri. 2005, Lesson Study sebagai model pengembangan Profesi Guru dalam upaya meningkatkan pembelajaran MIPA, makalah disampaikan dalam seminar dan workshop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
Susilo, Herawati.2005.Lesson Study: Apa dan Mengapa. makalah disampaikan dalam seminar dan workdhop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
———Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: