Meningkatkan Profesionalitas Guru dengan PTK (classroom action research)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS SEBAGAI MODEL PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Oleh:

Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si

Dosen Kimia FMIPA UM

Kepala SMA LABSCHOOL UM
Pendahuluan

Permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Menurut Sudarwan (2004:24) rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh rendahnya mutu pembelajaran, seperti (1) kompetensi guru, (2) mutu proses belajar-mengajar, (3) mutu kurikulum, (4) ketersedian sarana prasarana pendidikan serta sumber belajar, (5) mutu raw input lembaga pendidikan, dan (6) kondisi lingkungan sosial budaya dan ekonomi. Rendahnya mutu pendidikan memberi dampak rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia. Laporan UNDP tentang indeks pembangunan manusia yang dilakukan pada tahun 2005 indonesia ada pada rangking 110 yang menunjukkan rangking terendah bahkan dg Negara tetangga sekalipun. Selain itu dari survey TIMSS ( The trends in International Mathematics and Science Study) pada tahun 2003siswa SMP kelas 2 Indonesia menduduki rangking 36 untuk IPA dan 34 untuk Matematika dari 45 negara. Survey tersebut juga menunjukkan bahwa siswa kita hanya bisa menyelesaikan soal-soal yang sifatnya hafalan sedangkan soal-soal yang membutuhkan penalaran tidak bisa dikerjakan.

Undang Undang Guru dan Dosen
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pada tahun 2005 pemerintah dan DPR RI telah mensahkan Undang-Undang RI Nomor 14Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru agar guru menjadi profesional. Di satu pihak, pekerjaan sebagai guru akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi dipihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru memenuhi sejumlah persyaratan agar mencapai standar minimal seorang profesional.
Pengakuan terhadap guru sebagai tenaga profesional akan diberikan manakala guru telah memiliki antara lain kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang dipersyaratkan (Pasal 8). Kualifikasi akademik tersebut harus „diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat“ (Pasal 9). Sertifikat pendidik
diperoleh guru setelah mengikuti pendidikan profesi (Pasal 10 ayat (1)).
Adapun jenis-jenis kompetensi yang dimaksud pada Undang-undang tersebut meliputi „kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional“ (Pasal 10 ayat (1)).
Berdasarkan hasil pertemuan Asosiasi LPTK Indonesia, penjabaran tentang jenis-jenis kompetensi tersebut sebagai berikut.

§ Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Secara rinci kompetensi pedagogic meliputi :
1. Memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, moral, kultural, emosional, dan intelektual.
2. Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan budaya.
3. Memahami gaya belajar dan kesulitan belajar peserta didik
4. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik
5. Menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaran yang mendidik
6. Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran
7. Merancang pembelajaran yang mendidik
8. Melaksanakan pembelajaran yang mendidik
9. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran

§ Kompetensi kepribadian yaitu memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi ini meliputi:
1. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
3. Mengevaluasi kinerja sendiri
4. Mengembangkan diri secara berkelanjutan.

§ Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Kompetensi ini mencakup:
1. Menguasai substansi bidang studi dan metodologi keilmuannya.
2. Menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi.
3. Menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
4. Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi.
5. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

§ Kompetensi sosial yaitu kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Dengan kompetensi ini, guru diharapkan dapat:
1. Berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
2. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di sekolah dan masyarakat.
3. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional, dan global.
4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi dan pengembangan diri.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pasal 19 dari peraturan pemerintah ini berbunyi sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
2. Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.
3. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Peraturan pemerintah tersebut mengindikasikan bahwa sekarang pemerintah menaruh perhatian terhadap mutu proses pembelajaran. Usaha baik dari pemerintah ini harus ditindaklanjuti sehingga mutu pendidikan menjadi kenyataan yang akan berdampak terhadap pembangunan Indonesia di masa mendatang. Tentunya, kerja keras kita dalam menindaklanjuti usaha pemerintah ini baru dapat dirasakan paling cepat dalam waktu 10 tahun mendatang. Tantangan bagi kita adalah bagaimana mengimplementasikan UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Mutu guru di Indonesia
Menurut data Direktorat peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan (PMPTK) tahun 2006 bahwa hanya ada 30% diantara 2,7 juta guru di Indonesia yang memenuhi kualifikasi S-1 atau D-4 seperti telihat pada Tabel 1. Artinya 70% guru di Indonesia belum mempunyai kualifikasi yang dipersyaratkan oleh Permen No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Selain dari segi kualifikasi maka data pada Tabel 2. Menunjukkan betapa mutu calon guru sangat memprihatinkan dari segi penguasaan konsep. Apabila dikaitkan dengan amanah perundangan yang telah dibahas di atas maka perlu kerja keras untuk meningkatkan mutu guru.

Tabel 1. Guru Menurut Ijazah Tertinggi Tahun 2002/2003
(kendala teknis)
Tabel 2. Hasil Seleksi Calon Guru PNS
(kendala teknis)

Pemerintah melalui direktorat PMPTK telah merancang dan melaksanakan peningkatan mutu guru dengan berbagai macam program. Guru yang belim memenuhi kualifikasi diharapkan segera dapat dilakukan program pendidikan kualifikasi. Program kualifikasi tersebut diharapkan memenuhi tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, tanpa meninggalkan tugas mengajar dan diharapkan program tsb melayani guru dg baik serta program tsb memperhitungkan pengalaman guru di dalam menyusun kurikulumnya. Sedangkan bagi guru yang sudah memenuhi kualifikasi dilakukan program sertifikasi. Guru yang lolos sertifikasi dengan model penilaian portofolio diharapkan mempunyai kompetensi yang memadai. Sedangkan yang tidak lulus sertifikasi akan dilakukan program pendidikan dan pelatihan sertifikasi selama kurun waktu tertentu.
Bentuk pembinaan guru dalam jabatan yang lain antara lain adalah:
1. Pemberian dana untuk program Penelitian tindakan kelas
2. Penulisan karya ilmiah
3. Memberi kesempatan pada guru untuk kontak dengan berbagai hasil penelitian kependidikan
4. Merancang berbagai even sehingga guru dapat menjalion hubungan dengan media massa dan kontak akademik dengan kolega
5. Merancang berbagai macam training. Misalnya pelatihan tentang KTSP, Metode pembelajaran PAIKEM, CTL, dll
6. Merancang pelatihan dan pengembangan peningkatan mutu guru dengan melaksanakan Lesson Study baik ditingkat MGMP sampai Sekolah.
7. Dan berbagai pelatihan lainnya.

Dari program pembinaan guru yang dilakukan oleh Dirjen PMPTK salah satunya adalah merancang program pelaksanaan PTK oleh guru. Pertanyaannya mengapa PTK?

Pengembangan Profesi Guru Dalam Jabatan

Mutu guru sangat penting di dalam meningkatkan mutu pendidikan. Karena gurulah yang membuat segala kebijakan di dalam kelas termasuk perencanaan bagaimana cara mengimplementasikan kurikulum., Dengan demikian pengetahuan, penmgalaman, dan paradigm guru tentang pembelajaran akan sangat mempengaruhi apa yang terjadi di kelas.
Menurut Glenn (2000)( dalam Sri Rahayu:2005) kemampuan mengajar yang berkualitas bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir, tetapi kemampuan itu dapat dipelajari dan disempurnakan secara terus menerus. Ketrampilan mengajar khusus misalnya kemampuan untuk membedakan antara apa yang paling penting dipelajari oleh siswa atau apa yg paling sulit dipahami siswa, hanya dapat diperoleh melalui pelatihan., konsultasi, kolaborasi dan praktek langsung. Selain itu kualitas mengajar juga dipengaruhi oleh kemampuan guru menguasai konsep/materi bidang studi dengan baik. Hal ini berarti guru harus senantiasa meningkatkan mutunya dengan terus belajar baik dalam penguasaan konsep maupun dalam melaksanakan kemampuan pedagogiknya.
Beberapa karakteristik pengembangan profesi guru yang berkualitas di antaranya adalah sebagi berikut (dalam Kedzior and Filfield, 2004):
1. Berpusat pada materi pelajaran. Pengembangan profesi guru harus berdasar pada pengayaan materi pelajaran dan juga mencakup pertombangan tentang pengetahuan awal siswa yang terkait dengan materi pelajaran dan strategi guru dalam melibatkan siswa secara aktif untuk memperoleh sendiri pengetahuannya.
2. Pengamana diperluas dalam pengembangan profesi guru tidak hanya sekali pertemuan misalnya tetapi semakin sering semakin baik.
3. Kolaboratif. Model kolaboratif askan sangat besar manfaatnya bagi tumbuhnya rasa tanggungjawab bersama dalam peningkatan mutu guru.
4. Bagian dari tugas-sehari-hari. Pengembangan profesi hendaknya diutamakan berbasis sekolah dan dikaitkan langsung dengan tugas guru sehari-hari.
5. Berkelanjutan. Pengembangan profesi guru sebaiknya dilakukan terus menerus tidak episodic dan dilakukan dukungan untuk belajar lebih lanjut.
6. Koheren dan terintegrasi. Pengembangan profesi seharusnya terkait dengan pengalaman yang konsisten dengantujuan guru, sejalan dengan standar kuriklum, asesmen, dan inisiatif reformasi lainnya; dan diinformasi olehbukti-bukti penelitian terbaik yang ada.
7. Berbasis inkuiri.Pengembangan profesi guru seharusnya mendorong inkuiri terus-menerus dan refleksi melalui pembelajaran aktif
8. Kebutuhan guru. Pengembanagan profesi seharusnya merespon kebutuhan dan minat yang diidentifikasi oleh guru itu sendiri. Dan akan semakin bermakna apabila jika mereka menggunakan materi dan proses milik mereka sendiri.
9. Didasarkan pada kinerja siswa. Kinerja siswa hendaknya menjadi landasan untuk pengembangan profesi guru.
10. Evaluasi diri. Pengembangan profesi harus mencakup evaluasi diri guru agar dapat memoertimbangkan kegiatan pengembangan profesi berkelanjutan.

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas ( PTK) dapat dipahami sebagai suatu studi sistematis terhadap praktek pembelajaran di kelas real dengantujuan untuk memperbaiaki atau meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar dengan melakukan tindakan tertentu. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat diidentifikasi adanya karakteristik PTK.
1. PTK dilaksanakan oleh guru sebagai praktisi atau sebagai pendidik dan pengajar, bukan sebagai ahli.
2. PTK dilaksanakan atas dasar masalah yang benar-benar dihadapi oleh guru dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di kelas. Sesungguhnya selalau ada masalah dalam kegiatan pembelajaran apabila guru peka dan berkeinginan untuk menyempurnakan proses pembelajaran yang dilakukannya.
3. Sesuai dengan namanya dalam PTK selalu ada tindakan yang diakukan guru untuk menyempurnakan pelaksanaan proses belajar mengajar. Untuk keperluan ini (dalam rangka mencari masalah penelitian dan menentukan tindakan yg dipilih) maka guru perlu membaca buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan literatur lain yang erat hubungannya dengan masalah yang hendak dipecahkan.
Paling tidak ada empat tujuan yang dapat dicapai dengan dilaksanakannya PTK, yakni meningkatnya
1. Kualitas proses pembelajaran di sekolah
2. Relevansi pendidikan
3. Mutu hasil pendidikan
4. Efisiensi pengelolaan pendidikan

Disamping tujuannya yang sangat penting bagi pengembangan pelaksanaan pembelajaran, kemanfaatan PTK dapat dipilah menjadi dua bagian besar:
1. Manfaat akademik
2. Manfaat praktis
Manfaat akademik, PTK bermanfaat membantu guru menemukan pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelas mereka untuk menyempurnakan pembelajaran dalam jangka pendek.
Dari manfaat praktis terhadap guru dalam upayanya (1) melaksanakan inovasi pembelajaran, (2) mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas, (3) meningkatkan profesionalisme guru melalui proses latihan yang sistematik dan berkelanjutan.

Prinsip dasar pelaksanaan PTK
Berdasarkan pengertian, karakteristik dan tujuan serta manfaat PTK maka dapat diidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang perlu diindahkan dalam pelaksanaan PTK. Tujuannya adalah supaya pelaksanaan PTK dapat berjalan lancer dan tujuan pelaksanaannya dapat diwujudkan dengan baik. Beberapa prinsip dasar pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut
1. PTK dilaksanakan untuk memecahkan masalah yang benafr-benar dihadapi oleh guru dalam proses pembelajarannya di kelas. Tentu masalah tersebut hendaknya menarik dan sesuai dengan kemampuan guru. Dengan melaksanaka PTK dari permasalahan pemnbelajaran riel di kelas diharapkan akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga mutu hasil belajar juga meningkat.
2. Pelaksanaan PTK tridak boleh mengganggu tugas pokok guru sebagai pendidik yang di dalamnya terdapat kegiatan mengajar, melatih, dan membimbing.
3. Pengumpulan data dalam PTK tidak boleh terlalu banyak menyita waktu. Maksudnya supaya tidak mengganggu tugas pokok guru, sehingga guru harus menentukan teknik yang tepat untuk mengumpulkan data yang diperlukan.
4. Metodologi yang di pakai dalam PTK harus tepat dan terpercaya.

Metode Pelaksanaan PTK
Aspek metodologi PTK nampak secara jelas dalam prosedur yang ditempuh dalam memecahkan masalah penelitian. Adapun prosedur umum pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi masalah
2. Melakukan analisis masalah
3. Merumuskan masalah penelitian
4. Merumuskan hipotesei tindakan
5. Menetapkan rancangan penelitian
6. Melaksanakan tindakan.
Seperti halnya penelitian pada umumnya langkah 1 sampai dengan 5 merupakan langkah yang sudah biasa dilakukan di dalam penelitian termasuk PTK. Langkah yang spesifik dan karakteristik pada PTK adalah pada langkah ke 6. Ada empat langkah yang biasanya digunakan dalam melaksanakan langkah tersebut. Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Rencana tindakan
2. Pelaksanan tindakan
3. Observasi
4. Refleksi
Keempat jenis kegiatan tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dan biasanya dilaksanakan dalam beberapa kali putaran (siklus)

Penutup

Dari uraian di atas maka sangatlah tepat pelaksanaan PTK perlu menjadi kegiatan rutin guru dalam rangka meningkatkan profesinya. Karena dari kajian tentang mutu profesi guru , karakter pengembangan profesi guru baik secara teoritis maupun yang dirancang oleh pemerintah terdapat koherensi yang nyata dengan model pelaksanaan PTK, yang kesemuanya adalah bermuara pada peningkatan profesi guru dan pada akhirnya mutu pendidikan nasional.

Daftar Pustaka
Joharmawan, Ridwan (2005). Pelaksanaan Lesson Study Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Guru, makalah disampaikan pada acara seminar dan workshop lesson study dalam rangka persiapan workshop kolaborasi FMIPA-MGMP SMP DAN SMA Kota Malang, 21 Juni 2005

Kedzior and Filfield, M. & Fifield.S. 2004. Teacher Professional Development. The Education Policy Brief, Vol 12. Online http://www.rdc.udel.edu

Rahayu, Sri. (2005). Lesson Study Sebagai Model Pengembangan Profesi Guru dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran MIPA, makalah disampaikan pada acara seminar dan workshop lesson study dalam rangka persiapan workshop kolaborasi FMIPA-MGMP SMP DAN SMA Kota Malang, 21 Juni 2005

Sudarwan Danim (2004) Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Jakarta. Bumi Aksara

Sukarnyana, I. Wayan. (1999). Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disajikan dalam Seminar dan Working Group Conference Dosen FMIPA di FMIPA UM, Malang, 27 Nopember 1999

Susilo, Herawati (2006). Konsep Dan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Bagi Pengembangan Profesi Guru SMA, makalah disampaikan dalam Workshop SMA Lab. School UM, Malang, 30 Januari 2006

Zamroni (2006). Kebijakan Pembinaan Guru Profesional, makalah disampaikan pada seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA di UNY.

About these ads

Satu Tanggapan to “Meningkatkan Profesionalitas Guru dengan PTK (classroom action research)”

  1. Pudjianto Says:

    benar adanya baru sekitar 30% guru telah memenuhi SNP, sangat tepat jika PTK dikembangkan dan menjadi kwajiban semua guru tanpa melihat pangkat golongan, sehingga dengan budaya menulis akan menjadi salah satu solusi meningkatkan profesionalitas guru

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: