Meningkatkan Profesionalitas Guru dengan PTK (classroom action research)

Maret 7, 2009

PENELITIAN TINDAKAN KELAS SEBAGAI MODEL PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Oleh:

Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si

Dosen Kimia FMIPA UM

Kepala SMA LABSCHOOL UM
Pendahuluan

Permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Menurut Sudarwan (2004:24) rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh rendahnya mutu pembelajaran, seperti (1) kompetensi guru, (2) mutu proses belajar-mengajar, (3) mutu kurikulum, (4) ketersedian sarana prasarana pendidikan serta sumber belajar, (5) mutu raw input lembaga pendidikan, dan (6) kondisi lingkungan sosial budaya dan ekonomi. Rendahnya mutu pendidikan memberi dampak rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia. Laporan UNDP tentang indeks pembangunan manusia yang dilakukan pada tahun 2005 indonesia ada pada rangking 110 yang menunjukkan rangking terendah bahkan dg Negara tetangga sekalipun. Selain itu dari survey TIMSS ( The trends in International Mathematics and Science Study) pada tahun 2003siswa SMP kelas 2 Indonesia menduduki rangking 36 untuk IPA dan 34 untuk Matematika dari 45 negara. Survey tersebut juga menunjukkan bahwa siswa kita hanya bisa menyelesaikan soal-soal yang sifatnya hafalan sedangkan soal-soal yang membutuhkan penalaran tidak bisa dikerjakan.

Undang Undang Guru dan Dosen
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pada tahun 2005 pemerintah dan DPR RI telah mensahkan Undang-Undang RI Nomor 14Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru agar guru menjadi profesional. Di satu pihak, pekerjaan sebagai guru akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi dipihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru memenuhi sejumlah persyaratan agar mencapai standar minimal seorang profesional.
Pengakuan terhadap guru sebagai tenaga profesional akan diberikan manakala guru telah memiliki antara lain kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang dipersyaratkan (Pasal 8). Kualifikasi akademik tersebut harus „diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat“ (Pasal 9). Sertifikat pendidik
diperoleh guru setelah mengikuti pendidikan profesi (Pasal 10 ayat (1)).
Adapun jenis-jenis kompetensi yang dimaksud pada Undang-undang tersebut meliputi „kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional“ (Pasal 10 ayat (1)).
Berdasarkan hasil pertemuan Asosiasi LPTK Indonesia, penjabaran tentang jenis-jenis kompetensi tersebut sebagai berikut.

§ Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Secara rinci kompetensi pedagogic meliputi :
1. Memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, moral, kultural, emosional, dan intelektual.
2. Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan budaya.
3. Memahami gaya belajar dan kesulitan belajar peserta didik
4. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik
5. Menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaran yang mendidik
6. Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran
7. Merancang pembelajaran yang mendidik
8. Melaksanakan pembelajaran yang mendidik
9. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran

§ Kompetensi kepribadian yaitu memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi ini meliputi:
1. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
3. Mengevaluasi kinerja sendiri
4. Mengembangkan diri secara berkelanjutan.

§ Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Kompetensi ini mencakup:
1. Menguasai substansi bidang studi dan metodologi keilmuannya.
2. Menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi.
3. Menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
4. Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi.
5. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

§ Kompetensi sosial yaitu kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Dengan kompetensi ini, guru diharapkan dapat:
1. Berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
2. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di sekolah dan masyarakat.
3. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional, dan global.
4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi dan pengembangan diri.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pasal 19 dari peraturan pemerintah ini berbunyi sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
2. Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.
3. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Peraturan pemerintah tersebut mengindikasikan bahwa sekarang pemerintah menaruh perhatian terhadap mutu proses pembelajaran. Usaha baik dari pemerintah ini harus ditindaklanjuti sehingga mutu pendidikan menjadi kenyataan yang akan berdampak terhadap pembangunan Indonesia di masa mendatang. Tentunya, kerja keras kita dalam menindaklanjuti usaha pemerintah ini baru dapat dirasakan paling cepat dalam waktu 10 tahun mendatang. Tantangan bagi kita adalah bagaimana mengimplementasikan UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Mutu guru di Indonesia
Menurut data Direktorat peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan (PMPTK) tahun 2006 bahwa hanya ada 30% diantara 2,7 juta guru di Indonesia yang memenuhi kualifikasi S-1 atau D-4 seperti telihat pada Tabel 1. Artinya 70% guru di Indonesia belum mempunyai kualifikasi yang dipersyaratkan oleh Permen No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Selain dari segi kualifikasi maka data pada Tabel 2. Menunjukkan betapa mutu calon guru sangat memprihatinkan dari segi penguasaan konsep. Apabila dikaitkan dengan amanah perundangan yang telah dibahas di atas maka perlu kerja keras untuk meningkatkan mutu guru.

Tabel 1. Guru Menurut Ijazah Tertinggi Tahun 2002/2003
(kendala teknis)
Tabel 2. Hasil Seleksi Calon Guru PNS
(kendala teknis)

Pemerintah melalui direktorat PMPTK telah merancang dan melaksanakan peningkatan mutu guru dengan berbagai macam program. Guru yang belim memenuhi kualifikasi diharapkan segera dapat dilakukan program pendidikan kualifikasi. Program kualifikasi tersebut diharapkan memenuhi tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, tanpa meninggalkan tugas mengajar dan diharapkan program tsb melayani guru dg baik serta program tsb memperhitungkan pengalaman guru di dalam menyusun kurikulumnya. Sedangkan bagi guru yang sudah memenuhi kualifikasi dilakukan program sertifikasi. Guru yang lolos sertifikasi dengan model penilaian portofolio diharapkan mempunyai kompetensi yang memadai. Sedangkan yang tidak lulus sertifikasi akan dilakukan program pendidikan dan pelatihan sertifikasi selama kurun waktu tertentu.
Bentuk pembinaan guru dalam jabatan yang lain antara lain adalah:
1. Pemberian dana untuk program Penelitian tindakan kelas
2. Penulisan karya ilmiah
3. Memberi kesempatan pada guru untuk kontak dengan berbagai hasil penelitian kependidikan
4. Merancang berbagai even sehingga guru dapat menjalion hubungan dengan media massa dan kontak akademik dengan kolega
5. Merancang berbagai macam training. Misalnya pelatihan tentang KTSP, Metode pembelajaran PAIKEM, CTL, dll
6. Merancang pelatihan dan pengembangan peningkatan mutu guru dengan melaksanakan Lesson Study baik ditingkat MGMP sampai Sekolah.
7. Dan berbagai pelatihan lainnya.

Dari program pembinaan guru yang dilakukan oleh Dirjen PMPTK salah satunya adalah merancang program pelaksanaan PTK oleh guru. Pertanyaannya mengapa PTK?

Pengembangan Profesi Guru Dalam Jabatan

Mutu guru sangat penting di dalam meningkatkan mutu pendidikan. Karena gurulah yang membuat segala kebijakan di dalam kelas termasuk perencanaan bagaimana cara mengimplementasikan kurikulum., Dengan demikian pengetahuan, penmgalaman, dan paradigm guru tentang pembelajaran akan sangat mempengaruhi apa yang terjadi di kelas.
Menurut Glenn (2000)( dalam Sri Rahayu:2005) kemampuan mengajar yang berkualitas bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir, tetapi kemampuan itu dapat dipelajari dan disempurnakan secara terus menerus. Ketrampilan mengajar khusus misalnya kemampuan untuk membedakan antara apa yang paling penting dipelajari oleh siswa atau apa yg paling sulit dipahami siswa, hanya dapat diperoleh melalui pelatihan., konsultasi, kolaborasi dan praktek langsung. Selain itu kualitas mengajar juga dipengaruhi oleh kemampuan guru menguasai konsep/materi bidang studi dengan baik. Hal ini berarti guru harus senantiasa meningkatkan mutunya dengan terus belajar baik dalam penguasaan konsep maupun dalam melaksanakan kemampuan pedagogiknya.
Beberapa karakteristik pengembangan profesi guru yang berkualitas di antaranya adalah sebagi berikut (dalam Kedzior and Filfield, 2004):
1. Berpusat pada materi pelajaran. Pengembangan profesi guru harus berdasar pada pengayaan materi pelajaran dan juga mencakup pertombangan tentang pengetahuan awal siswa yang terkait dengan materi pelajaran dan strategi guru dalam melibatkan siswa secara aktif untuk memperoleh sendiri pengetahuannya.
2. Pengamana diperluas dalam pengembangan profesi guru tidak hanya sekali pertemuan misalnya tetapi semakin sering semakin baik.
3. Kolaboratif. Model kolaboratif askan sangat besar manfaatnya bagi tumbuhnya rasa tanggungjawab bersama dalam peningkatan mutu guru.
4. Bagian dari tugas-sehari-hari. Pengembangan profesi hendaknya diutamakan berbasis sekolah dan dikaitkan langsung dengan tugas guru sehari-hari.
5. Berkelanjutan. Pengembangan profesi guru sebaiknya dilakukan terus menerus tidak episodic dan dilakukan dukungan untuk belajar lebih lanjut.
6. Koheren dan terintegrasi. Pengembangan profesi seharusnya terkait dengan pengalaman yang konsisten dengantujuan guru, sejalan dengan standar kuriklum, asesmen, dan inisiatif reformasi lainnya; dan diinformasi olehbukti-bukti penelitian terbaik yang ada.
7. Berbasis inkuiri.Pengembangan profesi guru seharusnya mendorong inkuiri terus-menerus dan refleksi melalui pembelajaran aktif
8. Kebutuhan guru. Pengembanagan profesi seharusnya merespon kebutuhan dan minat yang diidentifikasi oleh guru itu sendiri. Dan akan semakin bermakna apabila jika mereka menggunakan materi dan proses milik mereka sendiri.
9. Didasarkan pada kinerja siswa. Kinerja siswa hendaknya menjadi landasan untuk pengembangan profesi guru.
10. Evaluasi diri. Pengembangan profesi harus mencakup evaluasi diri guru agar dapat memoertimbangkan kegiatan pengembangan profesi berkelanjutan.

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas ( PTK) dapat dipahami sebagai suatu studi sistematis terhadap praktek pembelajaran di kelas real dengantujuan untuk memperbaiaki atau meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar dengan melakukan tindakan tertentu. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat diidentifikasi adanya karakteristik PTK.
1. PTK dilaksanakan oleh guru sebagai praktisi atau sebagai pendidik dan pengajar, bukan sebagai ahli.
2. PTK dilaksanakan atas dasar masalah yang benar-benar dihadapi oleh guru dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di kelas. Sesungguhnya selalau ada masalah dalam kegiatan pembelajaran apabila guru peka dan berkeinginan untuk menyempurnakan proses pembelajaran yang dilakukannya.
3. Sesuai dengan namanya dalam PTK selalu ada tindakan yang diakukan guru untuk menyempurnakan pelaksanaan proses belajar mengajar. Untuk keperluan ini (dalam rangka mencari masalah penelitian dan menentukan tindakan yg dipilih) maka guru perlu membaca buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan literatur lain yang erat hubungannya dengan masalah yang hendak dipecahkan.
Paling tidak ada empat tujuan yang dapat dicapai dengan dilaksanakannya PTK, yakni meningkatnya
1. Kualitas proses pembelajaran di sekolah
2. Relevansi pendidikan
3. Mutu hasil pendidikan
4. Efisiensi pengelolaan pendidikan

Disamping tujuannya yang sangat penting bagi pengembangan pelaksanaan pembelajaran, kemanfaatan PTK dapat dipilah menjadi dua bagian besar:
1. Manfaat akademik
2. Manfaat praktis
Manfaat akademik, PTK bermanfaat membantu guru menemukan pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelas mereka untuk menyempurnakan pembelajaran dalam jangka pendek.
Dari manfaat praktis terhadap guru dalam upayanya (1) melaksanakan inovasi pembelajaran, (2) mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas, (3) meningkatkan profesionalisme guru melalui proses latihan yang sistematik dan berkelanjutan.

Prinsip dasar pelaksanaan PTK
Berdasarkan pengertian, karakteristik dan tujuan serta manfaat PTK maka dapat diidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang perlu diindahkan dalam pelaksanaan PTK. Tujuannya adalah supaya pelaksanaan PTK dapat berjalan lancer dan tujuan pelaksanaannya dapat diwujudkan dengan baik. Beberapa prinsip dasar pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut
1. PTK dilaksanakan untuk memecahkan masalah yang benafr-benar dihadapi oleh guru dalam proses pembelajarannya di kelas. Tentu masalah tersebut hendaknya menarik dan sesuai dengan kemampuan guru. Dengan melaksanaka PTK dari permasalahan pemnbelajaran riel di kelas diharapkan akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga mutu hasil belajar juga meningkat.
2. Pelaksanaan PTK tridak boleh mengganggu tugas pokok guru sebagai pendidik yang di dalamnya terdapat kegiatan mengajar, melatih, dan membimbing.
3. Pengumpulan data dalam PTK tidak boleh terlalu banyak menyita waktu. Maksudnya supaya tidak mengganggu tugas pokok guru, sehingga guru harus menentukan teknik yang tepat untuk mengumpulkan data yang diperlukan.
4. Metodologi yang di pakai dalam PTK harus tepat dan terpercaya.

Metode Pelaksanaan PTK
Aspek metodologi PTK nampak secara jelas dalam prosedur yang ditempuh dalam memecahkan masalah penelitian. Adapun prosedur umum pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi masalah
2. Melakukan analisis masalah
3. Merumuskan masalah penelitian
4. Merumuskan hipotesei tindakan
5. Menetapkan rancangan penelitian
6. Melaksanakan tindakan.
Seperti halnya penelitian pada umumnya langkah 1 sampai dengan 5 merupakan langkah yang sudah biasa dilakukan di dalam penelitian termasuk PTK. Langkah yang spesifik dan karakteristik pada PTK adalah pada langkah ke 6. Ada empat langkah yang biasanya digunakan dalam melaksanakan langkah tersebut. Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Rencana tindakan
2. Pelaksanan tindakan
3. Observasi
4. Refleksi
Keempat jenis kegiatan tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dan biasanya dilaksanakan dalam beberapa kali putaran (siklus)

Penutup

Dari uraian di atas maka sangatlah tepat pelaksanaan PTK perlu menjadi kegiatan rutin guru dalam rangka meningkatkan profesinya. Karena dari kajian tentang mutu profesi guru , karakter pengembangan profesi guru baik secara teoritis maupun yang dirancang oleh pemerintah terdapat koherensi yang nyata dengan model pelaksanaan PTK, yang kesemuanya adalah bermuara pada peningkatan profesi guru dan pada akhirnya mutu pendidikan nasional.

Daftar Pustaka
Joharmawan, Ridwan (2005). Pelaksanaan Lesson Study Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Guru, makalah disampaikan pada acara seminar dan workshop lesson study dalam rangka persiapan workshop kolaborasi FMIPA-MGMP SMP DAN SMA Kota Malang, 21 Juni 2005

Kedzior and Filfield, M. & Fifield.S. 2004. Teacher Professional Development. The Education Policy Brief, Vol 12. Online http://www.rdc.udel.edu

Rahayu, Sri. (2005). Lesson Study Sebagai Model Pengembangan Profesi Guru dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran MIPA, makalah disampaikan pada acara seminar dan workshop lesson study dalam rangka persiapan workshop kolaborasi FMIPA-MGMP SMP DAN SMA Kota Malang, 21 Juni 2005

Sudarwan Danim (2004) Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Jakarta. Bumi Aksara

Sukarnyana, I. Wayan. (1999). Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disajikan dalam Seminar dan Working Group Conference Dosen FMIPA di FMIPA UM, Malang, 27 Nopember 1999

Susilo, Herawati (2006). Konsep Dan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Bagi Pengembangan Profesi Guru SMA, makalah disampaikan dalam Workshop SMA Lab. School UM, Malang, 30 Januari 2006

Zamroni (2006). Kebijakan Pembinaan Guru Profesional, makalah disampaikan pada seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA di UNY.

REFORMASI SEKOLAH MELALUI KEGIATAN “LESSON STUDY”

April 25, 2008

REFORMASI SEKOLAH MELALUI KEGIATAN “LESSON STUDY”
Studi kasus di SMP Gakuyo, Kota Fuji, Perfektur Shizuoka.
Oleh:
Ridwan Joharmawan

Pendahuluan

Departemen pendidikan nasional sedang berupaya keras untuk menjalankan amanat Undang-undang No 20 Tahun 2003 diantaranya terdapat pada Pasal 3, yang menyatakan tentang konsep pendidikan yang harus dijalankan adalah holistik untuk membangun karakter, karena “bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Salah satu langkah strategis yang sudah dihasilkan adalah tersusunnya Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, dimana memuat kebijakan yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan di atas.
Direktorat Menengah Umum untuk melaksanakan amanat tujuan pendidikan telah menyusun program strategis. Terdapat 20 program strategis dan 3 program tambahan. Satu diantaranya adalah program reformasi
sekolah. Program ini dikembangkan mengacu pada “Sekolah Efektif”, yaitu sekolah yang memiliki profil: mandiri, inovatif, dan memberikan iklim yang kondusif bagi warganya untuk mengembangkan sikap kritis, kreatif dan secara bersama-sama mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Untuk menuju sekolah efektif diperlukan proses reformasi di tiga level sebagai berikut:
a. Pada level kelas (regulator) mencakup:
 mewujudkan proses pembelajaran efektif
 menerapkan sistem evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan
b. Pada Level Mediator (Profesi) mencakup:
 Melaksanakan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah yang kuat
 Melaksanakan pengembangan dan pembinaan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
c. Pada Level sekolah (manajemen) mencakup:
 Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah (clarity of purpose)
 Melaksanakan kerangka akuntabilitas yang kuat
 Melaksanakan transparansi manajemen
 Menumbuhkan komitmen untuk mandiri
 Mengutamakan kepuasan siswa dan orang tua
 Menumbuhkan sikap reponsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
 Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib
 Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah
 Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi
 Menumbuhkan kemauan untuk berubah
 Mengembangkan komunikasi yang baik
 Mewujudkan tim kerja yang kompak, cerdas dan dinamis
 Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif
 Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat.

Dari uraian di atas terlihat bahwa reformasi sekolah seharusnya dilaksanakan secara serentak pada ke tiga level yang berpengaruh terhadap pencapaian sekolah efektif. Namun demikian pada makalah ini akan dikupas terfokus pada level kelas dan pengembangan profesi guru.
Model pendidikan holistik berbasis karakter yang diamanatkan oleh UU No 20 Tahun 2003, sesungguhnya sudah menjadi trend pembaruan sistem pendidikan yang dianggap cocok untuk abad 21. Reformasi pendidikan di Jepang misalnya, ada tiga kalimat kunci yang sering disebut, yaitu kokoro-no-kyoiku (pendidikan untuk hati, jiwa, atau kedirian manusia), sogo-gakushyu (pembelajaran holistik), dan tokushyoku, koseika (keunikan masing-masing sekolah dan masing-masing individu). Ministry of education of British Columbia, Canada, pada tahun 2000 juga mencanangkan tujuan pendidikan untuk mengembangkan aspek estetika dan kesenian, emosi dan sosial, intelektual, fisik dan kesehatan, serta aspek tanggung jawab sosial.
Akhir tahun 1990-an sampai sekarang perekonomian Jepang tidak sebaik pada tahun 1960-an hingga 1990-an. Dibelakang sukses ekonomi diyakini disebabkan oleh keberhasilan reformasi pendidikan, karena sukses ekonomi pasti didukung oleh tersedianya sumber daya manusia terdidik dan tenaga kerja yang kompeten. Sebaliknya sejak akhir tahun 1990-an sampai sekarang ekonomi Jepang yang mengalami kesulitan juga diyakini oleh karena kurang berhasilnya reformasi pendidikan. Walaupun selama 10 tahun terakhir reformasi pendidikan sedang berlangsung namun diakui oleh beberapa akademisi pendidikan masih banyak masalah yang belum tertangani dengan baik. Walaupun demikian pendidikan di Jepang dianggap masih baik oleh negara-negara lain. Beberapa indikator yang menunjukkan pendidikan Jepang dianggap baik adalah:
 Rasio siswa SMP yang masuk SMA sebesar 97%, merupakan angka tertinggi di dunia
 Rasio siswa SMA yang meneruskan ke perguruan tinggi sebesar 49% , merupakan angka tertinggi di dunia
 Kasus siswa tidak masuk sekolah sangat rendah
 Kasus kriminal oleh pelajar juga rendah.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Jepang saat ini dilakukan 3 hal:
1. Penyebaran budaya kolaboratif dan budaya kepemimpinan
2. Pelaksanaan Lesson Study dengan basis sekolah membuka diri dan sebagai gambaran budaya kolaboratif dan distribusi kepemimpinan dalam peningkatan pembelajaran
3. Pembentukan sekolah sebagai komunitas belajar

Studi Kasus Reformasi Sekolah di SMP Gakuyo, Kota Fuji
SMP Gakuyo saat ini merupakan sekolah pada peringkat atas secara akademik. Empat tahun lalu kondisinya jauh berbeda, banyak siswa yang mau lari dari kelas, tidur dan seringkali protes terhadap guru, saat itu rangking sekolah ada kelompok bawah dari 14 SMP di kota Fuji. Untuk merubah keadaan tersebut maka dilakukan 3 tahapan sebagai berikut
1. Merubah perhatian Guru kepada siswa
2. Melaksanakan pembelajaran kolaboratif
3. Melakukan Lesson Studi
Banyaknya kasus siswa yang ingin lari dari kelas (banyak siswa absen, membolos), siswa yang tertidur di kelas, dan protes terhadap guru yang pada akhirnya menurunkan kemampuan akademis sekolah sehingga pada urutan terbawah pada awalnya oleh guru dianggap penyebabnya dari diri siswa. Komentar bahwa siswa di SMP ini bodoh, malas dan tidak sopan merupakan pandangan umum para guru untuk menjawab permasalahan tentang buruknya kondisi siswa. Padahal sesungguhnya setelah diamati bersama oleh para guru, penyebab dari kondisi siswa tersebut adalah karena pembelajaran di kelas tidak menarik, sehingga siswa ingin lari dari kelas, tertidur dan nilai akademiknya rendah. Pada saat itu pembelajaran dilakukan dengan ceramah sehingga interaksi monolog guru-murid dan berpola teacher-centered yang mengakibatkan siswa kurang dihargai pendapatnya. Kenyataan tersebut mengakibatkan pembelajaran menjadi membosankan, siswa yang tidak dihargai pendapatnya menjadi patah semangat untuk mengikuti pembelajaran. Siswa yang mengalami kesulitan belajar semakin ketinggalan karena Guru tidak mampu menggali lebih jauh penyebab siswa mengalami kesulitan di dalam pembalajaran.
Oleh karena itu cara pandang Guru terhadap buruknya kondisi siswa tersebut harus dirubah. Bahwa bukan karena siswa semata penyebab dari kondisi tersebut tetapi sesungguhnya bagian terbesar dari penyebab buruknya kondisi siswa karena Guru itu sendiri. Oleh karena itu pendapat awal tentang kondisi buruknya siswa sekarang menjadi boomerang bagi Guru. Guru hendaknya mampu membuat pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat siswa misalnya dengan berdiskusi, banyak bertanya, bereksplorasi dan membuat suasana kelas yang menyenangkan sehingga kemampuan verbal dan motoriknya berkembang, termasuk juga kemampuan berpikir kritisnya.
Di SMP Gakuyo pembelajaran dilaksanakan dengan sebanyak mungkin menggunakan kegiatan belajar mengajar ” hands-on activity” . Kegiatan belajar mengajar menggunakan media pembelajaran yang langsung digunakan oleh siswa. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan konstruktivistik, dimana siswa di fasilitasi untuk memperoleh pengetahuannya secara mandiri baik individu maupun kelompok. Sebelum kegiatan belajar mengajar guru harus memperhatikan cara:
 Memancing respon siswa terhadap materi yang akan disampaikan
 membangkitkan rasa ingin tahu dan memecahkan dengan kegiatan baik individu kemudian kelompok
 Penyedian media/alat bantu belajar dalam kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan belajar mengajar dengan kegiatan “hands-on” mampu menggairahkan siswa untuk menyenangi susana belajar disekolah sehingga problem kelas membosankan dapat di atasi. Media pembelajaran senantiasa dikembangkan terus menerus melalui diskusi-dsikusi dalam lesson study.
Di dalam kelas heterogen biasanya terdapat tiga kelompok siswa kelompok pertama adalah siswa yang sudah paham terhadap materi pembelajaran, kelompok yang kedua adalah yang setengah paham, dan yang ketiga adalah kelompok yang tidak paham. Untuk meningkatkan kelompok siswa yang yang setengah paham dan yang tidak paham menjadi paham guru seorang diri akan kesulitan melakukan perubahan tersebut. Pembelajaran kolaboratif dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Pembelajaran kolaboratif di lakukan untuk mendorong siswa belajar dengan orang lain (teman, dan gurunya), belajar dengan obyek pembelajaran, dan belajar dengan dirinya. Di dalam pembelajaran kolaboratif siswa tidak hanya paham tetapi juga siswa mampu menjelaskan, dan diharapkan siswa mampu mengajarkan kepada temannya. Dengan demikian dalam pembelajaran kolaboratif ini secara bersama-sama kendala kelompok siswa yang setengah paham dan tidak paham diharapkan mampu diatasi bersama-sama di dalam kelompok. Namun demikian pembelajaran kolaboratif hendaknya juga memberi kesempatan kepada siswa untuk sebelumnya berpikir mandiri, Oleh karena itu proses pembelajaran hendaknya berlangsung dengan tahapan: belajar mandiri dilanjutkan kolaboratif, kemudian penyampaian pendapat antar kelompok.
Untuk membuat siswa yang cerdas menjadi malas melakukan pembelajaran kolaboratif maka topik pembelajaran kolaboratif dipilih topik yang sulit. Dengan memberikan soal yang sulit siswa akan tertantang untuk menyelesaikan masalah dengan bekerja sama dan terjadilah diskusi yang menarik antar siswa dalam kelompok maupun antar kelompok di dalam kelas sehingga kelas merupakan komunitas belajar yang baik. Pemberian soal yang sulit, tidak hanya menggairahkan siswa yang cerdas tetapi juga akan membuat siswa secara bersama-sama melompat di dalam memahami materi pembelajaran dari level yang normal dengan dukungan teman lain. Soal yang sulit dicontohkan adalah soal yang di atas level yang seharusnya (misalnya siswa SMP diberi masalah untuk kelas/tingkat diatasnya). Soal atau tema yang levelnya lebih tinggi akan menumbuhkan daya imajinasi siswa yang tinggi dan juga semangat belajar bersama-sama yang baik.
Pembelajaran kolaboratif dilaksanakan setelah siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri, setelah itu kemudian diminta untuk membuat kelompok kecil (maksimal 4 siswa, laki-laki dicampur perempuan dengan tingkat kemampuan yang heterogen). Anggota kelompok 4 siswa adalah yang paling efektif lebih dari itu anggota lain akan cenderung pasif. Sedangkan gabungan siswa perempuan dan laki-laki memberi pengaruh kuat terhadap aktivitas pembelajaran kolaboratif. Sedangkan tingkat kemampuan heterogen akan mendorong siswa melakukan proses belajar bersama yang efektif, siswa yang paham akan melakukan proses menjelaskan dan mengajarkan kepada anggota kelompok lainnya.
Ada 2 jenis kegiatan kolaboratif
1. Kegiatan individu yang dilakukan bersama: di mana seorang siswa yang belum paham jika berfikir sendiri, dan akan paham jika mendapat bantuan teman-temannya.
2. Kegiatan berdiskusi dari pendapat individu:- Para siswa saling menyatakan dan mendengarkan pendapat temannya, dan ini menjadi kesempatan yang baik untuk saling merasakan sisi positif dari teman lain dan juga untuk mengetahui pendapatnya yang belum sempurna. – Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan dengan kata-kata yang muncul dari dirinya sendiri, sehingga akan memperjelas pendapatnya.
Untuk mendukung pembelajaran kolaboratif yang berarti, maka diperlukan aturan di dalam berkomunikasi di kelompok. Aturan tersebut antara lain:
 Mendengarkan dengan baik pendapat orang lain, apabila belum memahami pendapat orang lain harus bertanya dengan kalimat “ belum tahu/paham”
 Tidak memberitahu/menjelaskan kepada orang lain sebelum diminta.
 Harus memberitahu/menjelaskan sampai selesai apabila diminta.
 Boleh meniru kata-kata atau tindakan teman, Lebih baik paham walaupun meniru orang lain daripada dibiarkan saja dalam keadaan belum paham
Kadangkala kegiatan kolaboratif tidak berhasil, terlihat dari tidak adanya aktivitas diskusi dalam suatu kelompok sehingga tidak ada pemecahan yang benar dari masalah yang di munculkan oleh guru. Untuk itu guru harus segera membimbing siswa di dalam kelompok ibarat guru menyediakan tangga untuk di gunakan siswa naik menemukan jawaban dari masalah yang didiskusikan. Tangga tersebut dapat berupa kata-kata kunci (clue) menyelesaikan masalah, merubah susunan kelompok, dan memilih siswa yang sudah paham untuk menyampaikan pendapatnya.
Saat ini di SMP Gakuyo seluruh pembalajaran mata pelajaran dilakukan dengan pembelajaran kolaboratif. Pada awalnya guru-guru di sekolah tidak mau melaksanakan pembelajaran kolaboratif disebabkan oleh karena:- khawatir menurunkan nilai ujian, – waktunya lebih lama sehingga materi di dalam buku teks tidak selesai. Walupun kemudian mereka sadar alasan tersebut hanyalah self barier. Perubahan sikap guru tersebut dimulai setelah dilakukan Lesson Study secara terus menerus dimana yang pertama kali sebagai guru pengajar adalah Kepala Sekolahnya sendiri dan semua guru mengamati proses belajar mengajar. Setengah tahun kemudian baru muncul kesadaran untuk merubah metode mengajar dari teacher centered ke arah student centered (hands on activity dan pembelajaran kolaboratif).
Sekarang ini kegiatan lesson study dilakukan rutin 2 kali sebulan , 1 kali untuk guru satu tingkat kelas yang sama, dan satu kali diikuti seluruh guru satu sekolah. Satu tahun sekali seorang guru harus melakukan pembelajaran di dalam kegiatan lesson study. Kegiatan Lesson study dilaksanakan oleh guru dalam satu tingkat kelas yang sama dimana diharapkan terjadi kajian bersama dari beberapa orang guru yang mengajar siswa-siswa yang sama terhadap cara belajarnya. Dengan demikian akan terjadi banyak perhatian untuk memecahkan masalah siswa yang biasanya mengalami kesulitan belajar pada berbagai mata pelajaran. Sedangkan Lesson Study yang dilakukan observasi oleh seluruh guru di sekolah diharapkan guru dapat belajar lebih banyak masalah dalam berbagai tingkat kelas sehingga lebih bisa memahami filosofi hope-step-jump, dalam pembelajaran kolaboratif. Pada saat kegiatan Lesson Study guru pengajar akan mendapat banyak masukan berharga terutama tentang cara belajar siswa dari setiap guru pengamat, dan advisor dari Perguruan Tinggi(kadang-kadang).
Sebelum seorang guru mengajar pada saat kegiatan lesson study, seminggu sebelumnya guru melakukan analisis tentang kondisi siswa dan analisis materi pelajaran. Guru dibolehkan bertanya kepada guru bidang studi yang lain tentang persiapan yang sudah dilakukan. Hasil analisi dan konsultasi dengan guru lain kemudian di tulis dalam rencana pembelajaran yang sederhana yang di SMP Gakuyo disebut resep pembelajaran. Resep tersebut sangat ringkas dan padat sehingga di dalam praktek menjadi sangat luwes sehingga tidak miengikat guru untuk berimprovisasi dalam pembelajaran sesungguhnya. Point penting yang dilakukan Guru dalam pembelajaran di SMP Gakuyo pada pembuatan jurnal mengajar setelah selesai satu sesi pembelajaran. Jurnal mengajar ini menjadi tugas guru sekaligus sebagai refleksi untuk peningkatan pembelajaran berikutnya.
Pada saat pelaksanaan Lesson study, seorang guru mengajar siswanya dan semua guru dan advisor dari luar akan mengamati bagaimana siswa belajar. Observer akan mengamati cara belajar siswa atau kelompok siswa yang terdekat dengan dirinya. Kadang-kadang observer bertanya kepada siswa untuk memastikan pengamatannya. Segala hal tentang cara belajar siswa dari awal sampai akhir dicatat oleh observer. Pengamatan juga dilakukan dengan merekam kegiatan pembelajaran dengan handycam lebih dari satu.
Setelah pembelajaran selesai dilakukan diskusi. Guru pengajar duduk di meja depan menghadapi audiense bersama dengan Kepala Sekolah dan kadang-kadang dengan advisor dari perguruan tinggi. Di papan tulis sudah digambarkan denah tempat duduk siswa. Selanjutnya komentar disampaikan oleh semua guru yang menjadi observer. Pada saat diskusi pembicaraan terfokus bagaimana siswa belajar dan bagaimana menangani masalah belajar siswa serta saran bagaimana mengefektifkan pembelajaran. Tidak ada komentar yang mengkritik guru. Diskusi berlangsung dengan lancar dan kadang-kadang diselingi dengan tawa, suana serius tapi santai dan jauh dari ketegangan pun pada guru pengajar. Moderator mengatur jalannya diskusi dan dibantu notulis yang mencatat jalannya diskusi. Diskusi diikuti oleh semua guru peserta lesson study sampai berakhir kegiatan tersebut. Dimana kata akhir biasanya berupa pembahasan secara menyeluruh tentang topik-topik yang didiskusikan sekaligus memberi saran secara menyeluruh pada proses belajar mengajar yang baru saja dilakukan oleh kepala sekolah atau advisor dari perguruan tinggi.
Penutup
Dengan kegiatan Lesson Study berarti guru sudah mulai membuka diri untuk memulai perbaikan secara mendasar dalam peningkatan kualitas pembelajaran, yang intinya adalah membelajarkan siswa. Dengan membuka diri menerima saran dari teman guru dan pakar dari luar sekolah secara langsung dan mengikuti kegiatan lesson study dari teman lain maka diharapkan terjadi keberanian untuk melakukan perubahan dalam mengelola proses belajar mengajar sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kualitas guru. Kegiatan Lesson Study yang merupakan ajang diskusi tentang bagaimana meningkatkan cara belajar siswa diantara para guru dan bukan ajang untuk mengadili cara mengajar guru, akan mendorong tumbuhnya rasa percaya diri pada guru dan menguatnya rasa kesejawatan diantara guru, dengan kesadaran mencari metode yang terbaik bagaimana membelajarkan siswa. Sehingga pada akhirnya diharapkan semua guru dapat melayani semua siswa dalam pembalajaran, dan siswapun dapat menyesuaikan dengan model pembelajaran semua gurunya dan akhirnya sekolah bisa menerima siapapun kepala sekolahnya, karena sekolah sudah menjadi komunitas belajar yang mempunyai tujuan sama yaitu meningkatkan kualitas sekolah secara holistik. Kalau kondisi ini sudah tercapai maka sesungguhnya reformasi sekolah sudah mulai berjalan dan menampakkan arah yang benar.

Daftar Rujukan
Catatan Kuliah dari Prof. Yumiko Ono
Catatan Kuliah dari Prof. Manabu Sato
Catatan Kuliah dari Prof. Masaaki Sato
Catatan Kuliah dari Prof . Hidenori Fujita
Catatan Kuliah dari Mr. Junji Ishii
Catatan Kuliah dari Mr Kouichii Ito
Catatan Kuliah dari Prof Takeda.
Catatan Kuliah dari Prof Inagaki
Buku Program Strategis Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas .

Lesson Study

Maret 20, 2008

PENGALAMAN LESSON STUDY DI MALANG

Ridwan Joharmawan
Dosen Jurusan Kimia FMIPA UM dan Kepala Sekolah SMA Lab. UM

PENDAHULUAN
Peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah merupakan titik sentral di dalam peningkatan mutu sekolah. Guru merupakan faktor utama di dalam peningkatan kualitas pembelajaran, disamping faktor lain diantaranya; siswa, kurikulum, sarana-prasarana pembelajaran dan juga manajemen sekolah secara menyeluruh.
Sejak tahun 2000 SMA Laboratorium UM bekerjasama dengan FMIPA UM dan JICA dalam proyek IMSTEP, melakukan program peningkatan kualitas pembelajaran MIPA . Dalam program yang dinamakan Piloting tersebut guru-guru MIPA mendapatkan pelatihan dan juga pendampingan di sekolah secara terus menerus oleh dosen-dosen pendamping dari FMIPA tentang berbagai metode pembelajaran yang berbasis filosofi pembelajaran konstruktivisme.
Metode pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan konstruktivisme mempunyai ciri, guru memfasilitasi siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri dengan berbagai metode pembelajaran baik individu dan atau kelompok. Untuk melakukan pendekatan tersebut maka disusunlah berbagai metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa, hand’s-on activity, daylife activity, dan kolaborative.
Pelatihan dikampus FMIPA UM dilaksanakan untuk guru-guru MIPA sebagai upaya peningkatan pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan dalam mempersiapkan pembelajaran ; pengembangan silabi, pengembangan LKS, pengembangan kegiatan lab. menyusun asesmen, dan melatih ketrampilan pembelajaran di kelas.
Pendampingan dilakukan oleh tim dosen dari FMIPA UM mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran, pelaksanaan di kelas dan saat refleksi. Kegiatan pendampingan guru secara kontinyu di sekolah dirasa sangat membantu guru dalam meningkatkan rasa percaya diri, membantu penyelesaian masalah yang dihadapi guru serta memberi dorongan untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
Kegiatan Piloting membawa dampak posistif bagi peningkatan kualitas pembelajaran terlihat dengan semakin tingginya motivasi siswa di dalam mengikuti pembelajaran MIPA, disamping meningkatnya nilai mata pelajaran MIPA secara signifikan di kelas yang digunakan sebagai kelas Piloting. Namun demikian karena sekolah bukan hanya mata pelajaran MIPA maka peningkatan kualitas pembelajaran harus pula terjadi pada mata pelajaran lain. Dengan kata lain peningkatan kualitas guru non MIPA harus pula ditingkatkan mutunya.
Untuk meningkatkan kualitas Guru mata pelajaran non MIPA, maka ditempuh model pelaksanaan pengimbasan hasil kegiatan Piloting dengan cara Lesson Study. Cara tersebut dipilih karena guru dalam satu kelompok dapat saling belajar tentang metode pembelajaran dalam tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan di kelas, dan juga mendiskusikan metode tersebut setelah melihat dan mengamati bersama saat salah seorang guru mempraktekkan rancangan pembelajaran yang telah dirancang bersama di dalam kelas sesungguhnya, dan juga para guru dapat memahami bagaimana siswa belajar.

LESSON STUDY
Lesson study yang di dalam bahasa Jepang disebut jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang di lakukan oleh guru / sekelompok guru yang bekerjasama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama, guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainnya) merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian diobservasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan pembelajaran yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran di mana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan, kapan siswa mendapatkan pengetahuanya dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas dll. Diskusi pada saat refleksi yang mengkritik penampilan guru sejauh mungkin dihindari, dikarenakan hal tersebut tidak mempunyai manfaat bagi kesinambungan kegiatan lesson study.
Untuk dapat memulai kegiatan lesson study maka diperlukan perubahan dari dalam diri guru sehingga memiliki sikap sebagai berikut:
1. Semangat introspeksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini di dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pertanyaan seperti: Apakah saya sudah melakukan tugas mendidik dengan baik? Apakah saya sudah melakukan tugas seoptimal mungkin? Adalah merupakan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara jujur. Jawaban tersebut tentu akan mendorong pada proses pencarian cara untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan atas jawaban tersebut.
2. Keberanian membuka diri untuk dapat menerima saran dari orang lain untuk peningkatan kualitas diri.
3. Keberanian untuk mengakui kesalahan diri sendiri.
4. Keberanian mengakui dan memakai ide orang lain yang baik
5. Keberanian memberikan masukan yang jujur dan penuh penghormatan
Kelima sikap tersebut menjadi persyaratan yang harus dipahami dan mulai dipertajam sebelum kita melakukan kegiatan lesson study. Selain sikap dasar yang harus disiapkan oleh guru tersebut, maka juga sangat penting peranan dari berbagai komponen yang terkait dalam bidang pendidikan: pengelola sekolah, MGMP, kantor dinas pendidikan, universitas, dan para pemerhati pendidikan pada komitmen nyata dalam mendukung kegiatan lesson study.

Tahapan Pelaksanaan Lesson Study
Pada dasarnya lesson study dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan antara lain: 1) membentuk group lesson study misalnya guru dalam satu rumpun di sekolah, MGMP di kota /kabupaten atau guru seorang diri (tidak harus membuat kelompok) 2) menentukan fokus kajian dari lesson study, 3) merencanakan research lesson 4) mengajar dan guru/anggota group lain mengamati pembelajaran 5) mendiskusikan dan menganalisis hasil observasi dan 6) refleksi dan penyempurnaan untuk kegiatan berikutnya. Kegiatan lesson study secara sederhana dapat disingkat menjadi kegiatan Plan, Do-See dan Reflection.

Membentuk group lesson study
Paling tidak ada empat kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan group. Kegiatan tersebut antara lain adalah: 1) merekrut anggota, yang bisa berasal dari guru satu mata pelajaran atau lain, satu tingkat kelas, pengawas dari diknas, pemerhati pendidikan, atau dosen, 2) menyusun komitmen waktu, untuk pertemuan rutin merancang, melaksanakan, mengamati dan merefleksi lesson study, 3) menyusun jadwal pertemuan, 4) menyetujui aturan di dalam group.

Menentukan fokus Lesson study
Tahapan yang dilakukan untuk menentukan fokus lesson study antara lain adalah: 1) menyepakati tema penelitian,2) menentukan mata pelajaran (kalau anggota group guru lintas mata pelajaran), 3) menentukan satuan (unit) pelajaran.

Merencanakan Research lesson
Di dalam merencanakan research lesson, tentu kita senantiasa berpedoman pada fokus yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan mendiskripsikan tema penelitian kemudian mengintegrasikan dalam lesson plan tentu akan diperoleh kegiatan research lesson yang diharapkan. Untuk memandu penyusunan perencanaan research lesson , pertanyaan berikut ini bisa menjadi acuan:
1) apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?
2) apa yang kita harapkan dikuasai siswa pada akhir pelajaran?
3) apa saja rangkaian pertanyaan dan atau pengalaman belajar siswa yang akan mendorong siswa memperoleh pengetahuan yeng lebih lanjut?
4) kegiatan apa yang mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?
5) Apa bukti tentang hasil belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang harus dikumpulkan untuk data diskusi pada saat refleksi dan bagaimana instrumen pengumpulnya?
Pembuatan instrumen pengumpul data yang digunakan pada saaat reseach lesson menjadi sangat penting. Keberadaan instrumen pengumpul data yang berupa format isian tentang: denah tempat duduk siswa, anggota kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting yang dilakukan siswa misalnya partisipasi siswa dalam diskusi, sangat mendukung ketersediaan data yang akan dijadikan dasar di dalam kegiatan diskusi setelah pembelajaran selesai diamati.
Pengumpulan data utamanya difokuskan pada bagaimana siswa belajar, walaupun catatan penting tentang ucapan guru, alokasi waktu setiap tahapan pembelajaran juga perlu di lakukan.

PERANCANGAN KEGIATAN LESSON STUDY
Untuk merancang kegiatan Lesson Study di sekolah, maka dilakukan beberapa hal:
1. Menyusun Team Pengembang Pembelajaran:
Team ini beranggotakan, Guru-guru yang sudah mendapatkan pelatihan IMSTEP-JICA, guru Koordinator Mata pelajaran yang memiliki kemampuan mengajar yang baik.Tugas utama Team ini adalah mengembangkan kualitas pembelajaran di sekolah. Rincian tugasnya adalah:
a. merancang kegiatan workshop untuk guru-guru dengan materi pendekatan pembelajaran konstruktivisme, Penelitian Tindakan Kelas, Kurikulum Berbasis Konstruktivistik, Penyusunan Instrumen Asesmen, Tehnik memotivasi siswa.
b. mempersiapkan tata aturan pelaksanaan lessonstudy baik bagi guru maupun bagi pengamat saat perencanaan, pengamatan maupun saat refleksi.
c. mempersiapakan format pengamatan.
d. membuat jadwal pelaksanaan kegiatan lesson study dan mengumumkannya; yang berisi tanggal pelaksanaan, guru yang akan tampil, dan guru pengamat.
e. membuat laporan pelaksanaan kegiatan lesson study.

2. Merancang anggaran kegiatan lesson study dalam RAPBS, sehingga kegiatan lesson study dapat dilaksanakan secara optimal dengan dukungan dana RAPBS.
Anggaran kegiatan Lesson Study berupa Anggaran untuk : HR team pengembang tiap bulan, Biaya Pelaksanaan Workshop ( HR nara sumber, Transport dan Konsumsi, serta ATK) pembelajaran rutin di setiap awal semester, dan Transport dan konsumsi untuk pelaksanaan lesson study. Kegiatan Lesson study mulai tahun 2005 sudah mendapat dukungan dana RAPBS.
3. Melakukan kontrol di dalam pelaksanaan dengan mengikuti langsung kegiatan lesson study, dan menyelenggarakan rapat dinas dengan membahas laporan tim pengembang tentang pelaksanaan lesson study yang sudah dilaksanakan.

PELAKSANAAN KEGIATAN LESSON STUDY
Kegiatan lesson study mulai dilakukan pada bulan Agustus 2005, dimana sebelumnya pada bulan Juli dilaksanakan workshop peningkatan kualitas pembelajaran yang diikuti oleh semua guru dan karyawan dengan topik: Lesson study, dan Kompetensi guru.

Di dalam pelaksanaan kegiatan lesson study jumlah guru pengamat 5 – 10 orang guru, guru pengamat terdiri dari guru yang mengampu mata pelajaran sama maupun berbeda dengan mata pelajaran yang diajarkan saat lesson study.
PEMBAHASAN KEGIATAN LESSON STUDY
Pada awal pelaksanaan Lesson Study, tim pengembang merasa kesulitan untuk mendapatkan guru non piloting yang diminta untuk menjadi guru yang tampil pada kegiatan lesson study. Pada umumnya guru calon merasa kurang siap di dalam perancangan kegiatan pembelajaran yang berbasis siswa aktif, student centered, hand’s on activity, dan menyenangkan siswa. Alasan yang lain adalah guru merasa belum siap untuk dilihat oleh temannya pada saat mengajar, ini merupakan problem kepercayaan diri. Namun demikian setelah melalui berbagai tahapan workshop dan pengalaman mengobservasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru piloting maka lambat laun keberanian untuk tampil di dalam kegiatan Lesson study mulai tumbuh. Sehingga team pengembang tidak mendapat kesulitan di dalam menentukan guru yang tampil dalam Lesson Study.
Pada awal kegiatan lesson study banyak Guru pengamat melihat dan mengkritik tentang cara mengajar guru misalnya tentang: cara melakukan apersepsi, alokasi waktu yang tidak sesuai dengan di RP, posisi guru di depan kelas, cara guru membuat catatan di papan tulis, suara guru yang monoton, guru tidak secara tegas menyimpulkan materi pembelajaran, guru tidak melakukan penilaian pada saat proses pembelajaran dll. Namun demikian setelah diadakan rapat dinas terkait dengan lesson study dan adanya workshop membahas lesson study, maka pengamatan guru saat lesson study menjadi lebih terfokus pada proses belajar siswa di kelas. Hal ini terlihat pada saat refleksi kegiatan lesson study. Dimana guru pengamat yang mengajar pada kelas yang sama memberi masukan kepada guru pengajar dan wali kelas tentang siswa-siswa yang mengalami masalah pada saat pembelajaran, baik masalah kecakapan, kesulitan konsentrasi, atau sering memicu keramaian kelas. Selain itu pada saat refleksi pengamat melihat efektifitas pendekatan pembelajaran terhadap aktivitas siswa dalam belajar baik belajar mandiri, belajar dengan objek maupun belajar dengan teman dan atau gurunya.
Pada saat kegiatan lesson study secara umum guru sudah mencoba merancang dan melakukan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, terlihat dengan metode pembelajaran yang dipilih: kooperatif learning: TGT, STAD, jigsaw ; pembelajaran di laboratorium, CTL dll. Namun demikian dengan pengamatan oleh guru pengamat maka pada saat refleksi banyak masukan-masukan yang positif untuk menyempurnakan metode pembelajaran yang dilaksanakan.
Dengan melaksanakan kegiatan lesson study yang diikuti oleh hampir semua guru, maka terjadilah proses disseminasi metode pembelajaran yang berkualitas kepada guru. Keberhasilan proses disseminasi secara langsung dapat dilihat dari perubahan metode pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di sekolah. Secara umum guru mulai melaksanakan PBM yang lebih berkualitas dengan ciri; melaksanakan student centered, Hand’s on Activity, kolaboratif, laboratorium activity dan berbagai metode berbasis konstruktivisme.
Pembelajaran berkualitas di sekolah menjadi sebuah kebutuhan baik oleh guru maupun siswa. Tuntutan siswa untuk medapatkan pembelajaran yang berkualitas menjadi daya dorong guru untuk senantiasa melaksanakan PBM yang berkualitas.

Kendala Pelaksanaan Lesson Study
Pelaksanaan kegiatan Lesson Study telah berlangsung selama satu tahun. Dari hasil pelaksanaan tersebut ada beberapa kendala yang dihadapi antara lain:
1. Beberapa kelas merupakan kelas besar sehingga ruang/space untuk pengamat menjadi sangat terbatas, disamping itu menyulitkan guru dalam pembelajaran dengan kelompok, sehingga PBM kurang efektif.
2. Beberapa guru merasa belum siap untuk mengajar disemua tingkatan kelas.
3. Ketersediaan rekaman gambar saat guru mengajar yang akan sangat membantu guru pada saat refleksi ,belum cukup tersedia akibat sarana perekaman /handycam dan SDM, masih belum mencukupi.
4. Perlunya peningkatan pemahaman manfaat kegiatan lesson study kepada semua komponen sekolah baik guru, karyawan maupun pengelola sekolah, sehingga semua dapat saling bersinergi untuk memperlancar kegiatan lesson study.

PENUTUP
Dengan adanya kegiatan lesson study suasana belajar menjadi lebih bergairah dan menyenangkan, baik dari siswa, guru, maupun pengelola sekolah, inilah dasar yang diharapkan untuk mendorong terciptanya sekolah sebagai komunitas belajar ( learning community). Apabila suasana tersebut dapat ditingkatkan terus menerus di semua komponen sekolah maka cita-cita tercapainya sekolah yang berkualitas akan menjadi kenyataan.

Daftar Pustaka
Joharmawan, Ridwan. 2005, Reformasi Sekolah Melalui kegiatan Lesson Study, makalah disampaikan dalam seminar dan workshop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
Karim, Muchtar A. 2005, Lesson Study: Cara Implementasinya, makalah disampaikan dalam seminar dan workshop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
Lewis, Catherine C. 2002. Lesson study: A Handbook of teacher-Led Instructional Change. Philadelphia. PA: Research for Better schools,Inc.
Rahayu, Sri. 2005, Lesson Study sebagai model pengembangan Profesi Guru dalam upaya meningkatkan pembelajaran MIPA, makalah disampaikan dalam seminar dan workshop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
Susilo, Herawati.2005.Lesson Study: Apa dan Mengapa. makalah disampaikan dalam seminar dan workdhop Lesson Study di FMIPA UM, 21 Juni 2005
———Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Hello world!

Maret 20, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.